ADI Bogor Gelar Studium Generale di Pondok Pesantren Riyadhul Huda, Dewan Dakwah Dorong Dai Kuasai Ekonomi dan Teknologi Digital
Bogor, dewandakwah.or.id — Tantangan dakwah di era modern menuntut para dai tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga kecakapan dalam menjawab persoalan sosial, membangun kemandirian ekonomi umat, dan memanfaatkan teknologi digital. Dai dituntut hadir sebagai pembimbing spiritual sekaligus bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Bogor, dewandakwah.or.id — Tantangan dakwah di era modern menuntut para dai tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga kecakapan dalam menjawab persoalan sosial, membangun kemandirian ekonomi umat, dan memanfaatkan teknologi digital. Dai dituntut hadir sebagai pembimbing spiritual sekaligus bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Stadium General Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Bogor yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Riyadhul Huda, Citapen, Kabupaten Bogor, Sabtu (24/10/2026). Mengusung tema “Urgensi Peningkatan Kompetensi Dai”, kegiatan ini dihadiri ratusan peserta dan sejumlah tokoh nasional maupun daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Faturrahman, Mahfudz, BIRK, MM., mantan Menteri Kehutanan dan Anggota Pembina Dewan Dakwah, MS Kaban, Ketua Dewan Dakwah Jawa Barat Ustadz Roinul Balad, Ketua Dewan Dakwah Kota Bogor Dr. Abdul Halim, serta Pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Huda KH. Badru Kamal Makmun.
Ketua Umum Dewan Dakwah, Ustadz Faturrahman, menegaskan bahwa dai masa kini harus mampu merespons kebutuhan umat secara nyata. Menurutnya, dakwah tidak cukup berhenti pada penyampaian nasihat keagamaan, tetapi perlu disertai langkah konkret yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Dai harus mampu menghadapi tantangan zaman, dai yang mampu merespons segala persoalan,” ujarnya.
Ia mencontohkan persoalan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat. Dalam kondisi tersebut, seorang dai perlu mengambil peran dalam mendorong pemberdayaan ekonomi umat, termasuk melalui kegiatan usaha yang dapat memperkuat kemandirian masyarakat.
Dengan demikian, dakwah tidak hanya membangun kesadaran spiritual, tetapi juga mendorong umat menjadi lebih berdaya secara sosial dan ekonomi.
Ustadz Faturrahman juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi digital, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, dai dari kalangan Generasi Z perlu mengembangkan kemampuan sebagai influencer yang mampu menyampaikan pesan-pesan Islam secara kreatif dan relevan melalui media sosial.
Perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi dakwah untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Karena itu, dai perlu memahami karakteristik media digital agar pesan Islam dapat hadir di tengah kehidupan masyarakat, termasuk di ruang-ruang komunikasi yang banyak digunakan generasi muda.
Upaya meningkatkan kompetensi dai tersebut diwujudkan melalui pendidikan dan kaderisasi yang dijalankan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Da'wah Kota Bogor.
Ketua Dewan Dakwah Kota Bogor, Ustadz Abdul Halim, menyampaikan bahwa ADI Kota Bogor angkatan ketiga periode 2026–2027 memiliki 80 mahasiswa. Mereka mengikuti sejumlah jalur pendidikan, yakni kelas reguler, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Riyadhul Huda dan Pondok Pesantren Al-Qur’an wal Hadits, kelas Muslimah Inspiratif, serta ADI profesi.
Beragam jalur tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan dakwah bagi masyarakat dengan latar belakang dan kebutuhan yang berbeda.
Ustadz Abdul Halim menegaskan bahwa dakwah bukanlah tanggung jawab yang hanya melekat pada orang-orang yang berprofesi sebagai penceramah. Setiap muslim memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam dakwah sesuai kemampuan dan bidang yang dikuasainya.
Mereka yang memiliki kemampuan berbicara dapat menyampaikan kebaikan melalui lisannya. Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi dapat mendukung perjuangan dakwah melalui hartanya. Sementara itu, mereka yang berkecimpung di bidang politik dapat berkontribusi melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan umat.
“Jadi apa pun profesi kita, dasarnya adalah dai dengan porsi sesuai kemampuannya,” tuturnya.
Pandangan tersebut menempatkan dakwah sebagai gerakan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Dengan pembagian peran sesuai kompetensi, dakwah diharapkan dapat menjangkau lebih banyak bidang kehidupan dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Peringatan Hari Santri Nasional dalam kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjuangan dakwah memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia.
Ketua Dewan Dakwah Jawa Barat, Ustadz Roinul Balad, mengangkat keteladanan KH Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada Oktober 1945, ketika Republik Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial, para ulama mengambil peran penting dalam menggerakkan umat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu tonggak penting perjuangan tersebut adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menyerukan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan.
Bagi Ustadz Roin, semangat tersebut perlu diteruskan oleh para ulama dan dai masa kini melalui pengabdian yang tulus, keteguhan memegang prinsip agama, serta keberpihakan terhadap kepentingan umat.
Ia mengingatkan agar ilmu agama tidak dijadikan sarana untuk mengejar keuntungan pribadi, harta, maupun jabatan. Sebaliknya, ulama harus menjalankan peran sebagai warasatul anbiya, yakni penerus tugas para nabi dalam membimbing masyarakat dan menegakkan nilai-nilai Islam.
Ustadz Roin juga mengingatkan kembali lima fungsi Dewan Dakwah yang dicanangkan pendirinya, Mohammad Natsir, yaitu pengawal akidah, penegak syariah, penjalin ukhuwah, pengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan penggalang solidaritas dunia Islam.
Kelima fungsi tersebut menunjukkan bahwa dakwah memiliki cakupan yang luas. Selain membina akidah dan kehidupan beragama, dakwah juga berperan dalam memperkuat persaudaraan, menjaga keutuhan bangsa, serta membangun solidaritas umat Islam.
Mantan Menteri Kehutanan sekaligus Anggota Pembina Dewan Dakwah Ustadz MS Kaban turut menekankan bahwa dakwah merupakan gerakan mengajak, mengingatkan, menasihati, dan memberikan solusi atas berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, seorang dai perlu memahami kondisi masyarakat agar pesan yang disampaikan tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku dan kehidupan sosial ke arah yang lebih baik.
Ustadz Kaban juga menyoroti pentingnya menjalankan Islam secara kaffah atau menyeluruh. Nilai-nilai Islam, menurutnya, perlu tercermin dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kewajiban berdakwah melekat pada setiap muslim, baik secara individu maupun berjamaah. Karena itu, upaya mengajak masyarakat mengenal dan mengamalkan ajaran Islam harus menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
Pandangan tersebut sejalan dengan pentingnya peningkatan kompetensi dai. Pemahaman keagamaan perlu dibarengi kemampuan membaca persoalan masyarakat, membangun komunikasi yang baik, serta menghadirkan jalan keluar yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Huda, KH Badru Kamal Makmun, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Stadium General ADI Kota Bogor di lingkungan pesantrennya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara pesantren dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI).
KH Badru juga menyampaikan kekagumannya terhadap pemikiran Mohammad Natsir dan perjuangan KH Khair Affandy. Keteladanan para tokoh tersebut, menurutnya, menjadi inspirasi dalam merawat dan melanjutkan perjuangan dakwah dari lingkungan pesantren.
Ia berharap keluarga besar Pondok Pesantren Riyadhul Huda senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keberlangsungan pendidikan dan pengabdian pesantren, termasuk menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan perjuangan tersebut.
Penyelenggaraan Stadium General ADI Kota Bogor menegaskan pentingnya membangun ekosistem kaderisasi dai yang berkelanjutan. Melalui pendidikan, penguatan kompetensi, pemanfaatan teknologi, dan pemberdayaan ekonomi, para dai diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan integritas dan pijakan nilai-nilai Islam.
Humas Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Berita
Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)
Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.
Berita
Ketua Umum Dewan Dakwah Hadiri Silaturahmi Bersama Menteri Koperasi, Bahas Penguatan Ekonomi Umat dan Kondisi Nasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK, MM., menghadiri pertemuan silaturahmi dan pengarahan (briefing) bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono serta sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam nasional, Rabu (4/11/2026).
Berita
Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.