Dewan Dakwah Apresiasi Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS-Kemenag, Dorong Perhatian bagi Guru dan Madrasah di Wilayah 3T
Jakarta, dewandakwah.or.id — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Kementerian Agama (Kemenag) RI meluncurkan program Madrasah Layak Belajar (MLB) sebagai upaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan madrasah, khususnya madrasah swasta yang berada di lingkungan masyarakat kurang mampu.
Jakarta, dewandakwah.or.id — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Kementerian Agama (Kemenag) RI meluncurkan program Madrasah Layak Belajar (MLB) sebagai upaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan madrasah, khususnya madrasah swasta yang berada di lingkungan masyarakat kurang mampu.
Peluncuran program tersebut berlangsung di Auditorium BAZNAS RI, Rabu (21/10/2026), dan dihadiri sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam serta para pengelola madrasah. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap upaya kolaboratif dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.
Dewan Dakwah diwakili Wakil Ketua Umum, Dr. H. Imam Zamroji, M.A., dan Ketua Bidang Bina Masjid, Pesantren dan Kampus (MPK), H. Heri Sahmuda Sitorus, M.Sos. Kehadiran delegasi Dewan Dakwah disambut oleh Farid Septian, Kepala Divisi Bidang Pendidikan dan Dakwah BAZNAS RI.
BAZNAS: Zakat untuk Memperluas Akses Pendidikan
Pimpinan Pendistribusian, Pendayagunaan dan Pemberdayaan BAZNAS RI, H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., menjelaskan bahwa program Madrasah Layak Belajar merupakan salah satu dari 13 program BAZNAS RI dalam mendukung upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Program ini telah berjalan sejak 2023 dan akan terus dilanjutkan serta dikembangkan melalui berbagai inovasi agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.
Menurutnya, Madrasah Layak Belajar merupakan wujud kepedulian BAZNAS sekaligus kepedulian para muzaki terhadap dunia pendidikan, terutama dalam membantu madrasah yang menghadapi keterbatasan pembiayaan sarana dan prasarana.
Dalam pemaparannya, Idy Muzayyad mengungkapkan bahwa persoalan kerusakan ruang kelas masih menjadi tantangan serius, terutama di madrasah swasta. Ia menyebutkan, sekitar 88 persen ruang kelas madrasah pada jenjang MI, MTs, dan MA yang menjadi perhatian dalam pemaparan tersebut mengalami kerusakan, dengan keterbatasan anggaran sebagai salah satu kendala utama.
Di sisi lain, terdapat potensi zakat sebesar Rp327 miliar, sementara penghimpunannya baru mencapai Rp42 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang untuk meningkatkan penghimpunan zakat agar lebih banyak program pendidikan dapat memperoleh dukungan.
Karena itu, program Madrasah Layak Belajar diharapkan menjadi salah satu solusi konkret untuk menjawab persoalan keterbatasan fasilitas pendidikan melalui penyaluran dana zakat yang terencana dan tepat sasaran.
Idy juga menekankan pentingnya penghimpunan zakat melalui amil resmi agar pengelolaannya terkonsolidasi dengan baik dan mampu melahirkan program pemberdayaan yang memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Target 700 Madrasah Swasta, Anggaran Rp17,5 Miliar
Wakil Ketua BAZNAS RI, Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa program Madrasah Layak Belajar membutuhkan anggaran sebesar Rp17,5 miliar untuk membantu 700 madrasah swasta. Setiap madrasah direncanakan memperoleh bantuan sebesar Rp25 juta, terutama bagi lembaga pendidikan yang berada di lingkungan masyarakat kurang mampu.
Ia menegaskan bahwa penyaluran dana yang berdampak harus diawali dengan penghimpunan dana yang berdampak pula. Oleh sebab itu, kolaborasi antara BAZNAS, Kementerian Agama, dan para muzaki menjadi bagian penting dalam menyukseskan program tersebut.
Menurut Zainut, dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) yang dititipkan masyarakat kepada lembaga pengelola bukan sekadar harta yang diserahkan, melainkan juga amanah dan harapan agar dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat.
Perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, lanjutnya, merupakan kebutuhan mendasar agar para siswa dapat belajar dengan aman, nyaman, dan lebih optimal.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik.
BAZNAS berharap program Madrasah Layak Belajar dapat berkembang menjadi salah satu program unggulan yang mempertemukan kepedulian muzaki dengan kebutuhan nyata lembaga pendidikan Islam.
Kemenag Dorong Perhatian Lebih Besar bagi Madrasah Swasta
Direktur Kelembagaan dan Sarana Madrasah Kementerian Agama RI, Papay Supriatna, S.S., M.Pd., menambahkan bahwa madrasah swasta masih membutuhkan perhatian besar, baik dalam aspek sarana dan prasarana maupun tata kelola kelembagaannya.
Ia menyebutkan bahwa terdapat 1.706 madrasah negeri dan 15.083 madrasah swasta dalam data yang disampaikan pada kegiatan tersebut. Kebutuhan pembiayaan untuk mendukung peningkatan kualitas madrasah pun masih sangat besar, dengan potensi kebutuhan dana mencapai Rp1,6 triliun.
Karena itu, Kementerian Agama berkomitmen memperkuat sinergi dengan BAZNAS, terutama dalam mendukung dua tugas pokok pengelolaan zakat, yakni penghimpunan dan penyaluran atau pendistribusian dana kepada pihak yang berhak menerima.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan sekaligus mempercepat peningkatan kualitas fasilitas pendidikan madrasah, khususnya bagi lembaga yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Dewan Dakwah: Jangan Hanya Bangunan, Guru Juga Perlu Diperhatikan
Wakil Ketua Umum Dewan Dakwah, Dr. H. Imam Zamroji, M.A., menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif BAZNAS RI dalam menghadirkan program Madrasah Layak Belajar. Menurutnya, program ini merupakan terobosan positif yang menunjukkan pentingnya sinergi dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun pendidikan Islam.
Namun, ia mengingatkan bahwa kebutuhan madrasah tidak hanya berkaitan dengan perbaikan fisik bangunan, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama para guru yang menjadi ujung tombak pendidikan.
“Ini adalah terobosan yang baik, apalagi ini dilakukan dengan semangat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Harapannya, mudah-mudahan ke depan bukan hanya pada aspek fisik bangunannya saja, sarana dan prasarana, akan tetapi bisa merambah pada aspek bantuan terhadap SDM, khususnya guru,” ujarnya.
Menurut Dr. Imam Zamroji, peningkatan kualitas pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh. Fasilitas belajar yang memadai perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan tenaga pendidik agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal.
Dengan demikian, program bantuan pendidikan tidak hanya menghasilkan perbaikan bangunan, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan kualitas generasi yang dilahirkan oleh madrasah.
Dewan Dakwah Dorong Wilayah 3T Menjadi Prioritas
Senada dengan hal tersebut, Ketua Bidang Bina Masjid, Pesantren dan Kampus (MPK) Dewan Dakwah, H. Heri Sahmuda Sitorus, M.Sos., menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program Madrasah Layak Belajar. Ia berharap program tersebut turut menjangkau madrasah-madrasah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.
“Kita berharap daerah 3T menjadi prioritas utama karena di sana banyak keluarga rentan yang seyogianya mendapatkan sarana dan prasarana layak dan nyaman untuk belajar,” jelasnya.
Menurut Heri, perhatian terhadap madrasah di wilayah 3T penting agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Keterbatasan fasilitas tidak semestinya menjadi penghalang bagi mereka untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Ia menambahkan bahwa perhatian terhadap pendidikan merupakan bagian dari komitmen dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penguatan iman dan pemberdayaan ekonomi masyarakat binaan, tetapi juga mencakup pembangunan sarana dan prasarana pendidikan.
Hal tersebut sejalan dengan gerakan Dewan Dakwah dalam memperkuat pendidikan umat melalui semangat amal jama’i, yakni kerja kolektif yang mengintegrasikan potensi, sumber daya, dan kepedulian berbagai pihak untuk kemaslahatan masyarakat.
Dewan Dakwah berharap kolaborasi antara BAZNAS, Kementerian Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, para muzaki, dan pengelola madrasah dapat terus diperkuat. Sinergi tersebut perlu diwujudkan melalui pembagian peran, dukungan yang berkelanjutan, serta penyaluran bantuan yang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Program Madrasah Layak Belajar diharapkan tidak berhenti pada perbaikan fisik bangunan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam, memperkuat kapasitas guru, dan memperluas akses pendidikan yang layak bagi anak-anak Indonesia.
Dengan semangat saling mendukung, berbagi bantuan, dan menguatkan satu sama lain, berbagai program pembangunan pendidikan diharapkan semakin berdaya guna dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Abu Mush’ab
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Berita
Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)
Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.
Berita
Ketua Umum Dewan Dakwah Hadiri Silaturahmi Bersama Menteri Koperasi, Bahas Penguatan Ekonomi Umat dan Kondisi Nasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK, MM., menghadiri pertemuan silaturahmi dan pengarahan (briefing) bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono serta sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam nasional, Rabu (4/11/2026).
Berita
Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.