Kembali ke Daftar Berita
Artikel

Menyingkap Tabir Sejarah Islam: Antara Peran Umat dan Mitos Kegelapan

Oleh Admin Dewan Dakwah • Rabu, 05 Agustus 2026
Menyingkap Tabir Sejarah Islam: Antara Peran Umat dan Mitos Kegelapan

Tuduhan bahwa sejarah Islam dipenuhi dengan kegelapan, kekejaman, dan dominasi algojo kerap dilontarkan oleh sebagian pihak untuk mendiskreditkan peradaban Islam. Narasi yang menyebutkan bahwa 99% sejarah Islam adalah masa-masa kelam tentu tidak berpijak pada fakta yang objektif.

Oleh: Farizal, SEI., ME (Ketua Lampung Al-Qur'an Center, Pengurus Dewan Dakwah Lampung)

Tuduhan bahwa sejarah Islam dipenuhi dengan kegelapan, kekejaman, dan dominasi algojo kerap dilontarkan oleh sebagian pihak untuk mendiskreditkan peradaban Islam. Narasi yang menyebutkan bahwa 99% sejarah Islam adalah masa-masa kelam tentu tidak berpijak pada fakta yang objektif.

Untuk menjawab tuduhan ini secara proporsional, kita perlu memahami karakteristik unik yang membedakan sejarah peradaban Islam dengan sejarah bangsa-bangsa lainnya.

Karakteristik Unik: Peran Umat yang Dominan, Negara yang Terbatas

Kunci utama dalam memahami sejarah Islam terletak pada dinamika kekuasaan dan masyarakatnya. Dalam lintasan sejarah Islam, peran negara relatif terbatas, sementara umatlah yang secara aktif membangun peradaban dan menciptakan sejarah.

Hal ini dapat dilihat dari perjalanan para ulama besar, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka tumbuh, berkembang, dan berkarya di tengah-tengah masyarakat, bukan di bawah bayang-bayang fasilitas negara. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mengalami penindasan hingga pemenjaraan karena senantiasa menjaga jarak dari kekuasaan demi membela kemaslahatan umat.

Selain itu, pembiayaan peradaban Islam sepenuhnya ditopang oleh masyarakat melalui lembaga wakaf. Pendidikan, pengembangan fikih, pembangunan madrasah, rumah sakit, hingga pembiayaan jihad dan penjagaan perbatasan wilayah sebagian besar didanai oleh dana wakaf umat.

Sejarah mencatat formula khas peradaban Islam, yaitu membatasi peran negara dan mengagungkan peran umat.

Peradaban Gemilang di Tengah Dinasti Politik

Ketika sistem pemerintahan berubah dari masa Khulafaur Rasyidin yang berbasis musyawarah menuju sistem kerajaan turun-temurun (al-mulk al-’adhudh), peradaban Islam justru berkembang dengan sangat pesat. Pada masa dinasti-dinasti kekhalifahan inilah ilmu-ilmu Islam lahir, karya-karya besar dunia diterjemahkan, dan berbagai disiplin ilmu sains berkembang pesat hingga menjadi mercusuar serta rujukan bagi peradaban Eropa dan dunia.

Tentu saja, dalam roda pemerintahan masa lalu terdapat berbagai bentuk kekurangan, kezaliman, dan ketidakadilan politik. Namun, karena porsi dan pengaruh negara saat itu terbatas, dampak dari penyimpangan tersebut tidak sampai melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Umat tetap menjadi motor utama yang membangun peradaban, melakukan inovasi, melahirkan pusat-pusat keilmuan, dan menyebarkan nilai-nilai Islam dengan penuh kedamaian, terlepas dari dinamika politik istana yang kerap disorot berlebihan oleh para orientalis dan kaum sekuler.

Perbandingan dengan Era Modern

Perbedaan mendasar ini perlu dicermati secara jeli, terutama jika dibandingkan dengan kondisi era modern. Saat ini, muncul sistem negara-bangsa (nation-state) di mana negara memiliki dominasi mutlak—mengatur segala aspek kehidupan, namun di sisi lain seringkali mempersempit ruang kebebasan rakyat serta melemahkan peran institusi masyarakat sipil seperti wakaf.

Oleh karena itu, memandang sejarah Islam memerlukan perspektif yang adil dan objektif. Sejarah Islam bukanlah sejarah yang gelap gulita, melainkan sebuah lembaran peradaban gemilang yang dibangun atas dasar kemandirian umat, ketulusan para ilmuwan, serta semangat pengorbanan masyarakat yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam.

Semoga penjelasan ini memberikan pemahaman yang utuh, objektif, dan proporsional dalam membela serta meluruskan sejarah peradaban Islam.

Berita Terkait

Du'aat Rabbaani dan Penguatan 'Aqidah Umat dalam Menghadapi Ghazwul Fikri Kontemporer Artikel
14 Oktober 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Du'aat Rabbaani dan Penguatan 'Aqidah Umat dalam Menghadapi Ghazwul Fikri Kontemporer

Allah 'azza wa jalla berfirman:?????? ???????? ??????? ??????? ?????? ????? ??????? ???????? ???????? ??????? ???????? ???? ??????????????"Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushshilat/ 41: 33)

Maadzaa Ta'rifu 'Anil Hautsiyyiin; Apa yang Anda Ketahui Tentang Kelompok Hautsi? Artikel
13 Oktober 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Maadzaa Ta'rifu 'Anil Hautsiyyiin; Apa yang Anda Ketahui Tentang Kelompok Hautsi?

Berita perang dan serangan milisi kelompok Hautsiyyiin Yaman yang menghiasi media dua bulan terakhir ini, di antaranya: 15 September 2026 terlaporkan drone Hautsi memasuki wilayah selatan yang mengarah Mekkah, 26 September 2026 pasukan Saudi mencegat dua drone yang mengarah menuju Riyadh, 3-4 Oktober 2026 dengan rudal balistiknya pasukan Hautsi membidik perusahaan minyak Aramco Riyadh, 10 Oktober 2026 mereka berhasil menyasar Bandara Internasional King Khalid Riyadh. Eskalasi perang yang semakin...

Ber-Islam Ala Shahabat Nabi; Ikhtiar Menjadi Generasi Pewaris Kebaikan Artikel
20 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Ber-Islam Ala Shahabat Nabi; Ikhtiar Menjadi Generasi Pewaris Kebaikan

Oleh: KH. Teten Romly Qomaruddien, MA (Ketua Pusat Kajian dan Ghazawul Fikri Dewan Dakwah)Saat kata “Islam” disebut, maka tidak ada yang lebih tepat untuk disandarkan terhadap kata tersebut melainkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula, saat menyebut keduanya tidak bisa dilepaskan dari sumber yang diturunkan dan dibawakan, yakni Kitaabullaah dan Sunnah Nabi. Karena itulah, tidak keliru apabila para ulama selalu menyandingkan antara Islam dengan Sunn...