Mualim Md. Ali Alhamidy, Ulama PERSIS Asal Betawi yang Nyaris Terlupakan
Depok, dewandakwah.or.id — Ketika nama Persatuan Islam (PERSIS) disebut, ingatan publik kerap langsung tertuju kepada Jawa Barat. Jejak panjang organisasi ini memang banyak ditorehkan oleh ulama dan tokoh asal Tatar Sunda. Bahkan, tak jarang PERSIS diplesetkan sebagai “Persatuan Islam Sunda”.
Depok, dewandakwah.or.id — Ketika nama Persatuan Islam (PERSIS) disebut, ingatan publik kerap langsung tertuju kepada Jawa Barat. Jejak panjang organisasi ini memang banyak ditorehkan oleh ulama dan tokoh asal Tatar Sunda. Bahkan, tak jarang PERSIS diplesetkan sebagai “Persatuan Islam Sunda”.
Namun, di balik kuatnya citra tersebut, ada seorang ulama PERSIS asal Betawi yang pernah memainkan peran penting dalam perkembangan dakwah Islam di Batavia. Namanya Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman. Sayangnya, nama dan warisan keilmuannya kini tidak banyak dikenal generasi muda.
Upaya menghidupkan kembali jejak perjuangan ulama Betawi tersebut dilakukan melalui Seminar Tokoh Bangsa Mualim Md. Ali Alhamidy, yang digelar secara daring pada Ahad malam, 20 September 2026. Kegiatan ini diselenggarakan Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia bekerja sama dengan Pusdok Tamaddun, Bidang Infokom PP Persatuan Islam, dan Pondok Pesantren At-Taqwa Depok.
Seminar terbuka untuk masyarakat umum tersebut menghadirkan Ustaz Muhammad Ericson Ziad, guru Pondok Pesantren At-Taqwa Depok sekaligus peneliti filologi, serta Ustaz Hadi Nur Ramadhan, Ketua Biro Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Menariknya, forum ini juga dihadiri sejumlah santri Pondok Pesantren At-Taqwa Depok, tokoh-tokoh PERSIS, anggota Dewan Dakwah, budayawan Betawi, hingga keluarga Mualim Md. Ali Alhamidy.
Ulama Betawi yang Berguru kepada Habib Ali Kwitang
Pemilihan tanggal seminar bukan tanpa alasan. Ahad, 20 September 2026, bertepatan dengan tanggal kelahiran Mualim Md. Ali Alhamidy di Kwitang pada 20 September 1909.
Hadi Nur Ramadhan menjelaskan, Alhamidy merupakan bagian dari genealogi ulama Betawi. Tahun kelahirannya juga menempatkannya dalam satu generasi dengan sejumlah tokoh besar seperti Buya Hamka dan Mohammad Natsir. Alhamidy pernah menimba ilmu kepada Habib Ali Kwitang melalui Madrasah Unwanul Falah. Lingkungan keilmuan tersebut turut memberi pengaruh terhadap corak pemikiran keagamaannya.
Setelah itu, Alhamidy melanjutkan perjalanan intelektualnya dengan berguru kepada Syekh Ahmad Surkati dan Ahmad Hassan. Dari kedua tokoh tersebut, pemikiran Islam modernis semakin mewarnai perjalanan dakwahnya. “Alhamidy ini merupakan ulama yang memiliki banyak karya. Salah satu karyanya berjudul Ruh Mimbar, yang berisi kumpulan khutbah Jumat dan banyak tersebar di masjid-masjid yang ada di Betawi,” ujar Hadi.
Menurut Hadi, Alhamidy juga dikenal sebagai salah satu pelopor pelaksanaan salat Idulfitri di lapangan di tengah masyarakat Betawi pada masanya. Praktik tersebut menjadi sesuatu yang relatif baru ketika masyarakat saat itu umumnya masih melaksanakan salat Id di dalam masjid.
Berdakwah dengan Humor dan Diskusi
Gagasan pembaruan yang dibawa Alhamidy hadir di tengah masyarakat Betawi yang ketika itu mayoritas masih kuat dengan corak pemikiran tradisional. Namun, pendekatan dakwahnya membuat gagasan tersebut dapat diterima oleh masyarakat.
Salah satu kekuatannya adalah cara berdakwah yang komunikatif. Alhamidy dikenal menggunakan humor dan diskusi dalam menyampaikan ajaran Islam. Rumahnya di kawasan Matraman Dalam pun menjadi tempat berkumpul masyarakat yang ingin belajar agama. “Alhamidy mulai dikenal sebagai ulama kaum muda pada masa itu. Rumahnya di kawasan Matraman Dalam ramai dikunjungi oleh banyak orang yang ingin mempelajari agama Islam,” jelas Hadi.
Jejak dakwahnya juga tidak berhenti di mimbar. Alhamidy aktif dalam organisasi dan menjadi salah satu penggagas terbentuknya PERSIS di Batavia. Pada masa awal kemerdekaan, ia pernah menjadi pegawai negeri sipil di Kementerian Penerangan. Ia juga pernah terlibat sebagai anggota Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an. Dalam kehidupan politik, Alhamidy aktif di Partai Masyumi dan memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Hamka, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan AR Baswedan.
Produktif Menulis dalam Arab Melayu
Salah satu warisan terbesar Mualim Md. Ali Alhamidy adalah karya tulisnya. Ia dikenal produktif menulis buku-buku keislaman menggunakan aksara Arab Melayu. Sebagian karya bahkan masih berbentuk manuskrip tulisan tangan dan dicetak secara mandiri menggunakan mesin stensil.
Salah satu karya pentingnya adalah Adabul Insan Fil Islam. Kitab tersebut membahas adab secara luas, mulai dari adab kepada Allah, agama, Rasulullah, hingga adab dalam kehidupan sosial. Warisan tersebut hingga kini masih hidup di sejumlah lingkungan pendidikan. “Kitab ini masih dikaji di Pesantren At-Taqwa Depok, Langgar Ngaji Betawi, dan Rumah Qur'an Cahaya Fitrah,” kata Hadi.
Keberadaan karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Alhamidy bukan sekadar seorang pendakwah, tetapi juga seorang intelektual Muslim yang meninggalkan warisan pemikiran tertulis. Mengapa Namanya Mulai Terlupakan? Di tengah banyaknya karya dan aktivitas dakwah Alhamidy, muncul pertanyaan: mengapa namanya tidak seterkenal tokoh sezamannya seperti Hamka dan Mohammad Natsir?
Ustaz Muhammad Ericson Ziad, peneliti filologi dan pengajar Pondok Pesantren At-Taqwa Depok, mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui penelitian yang dilakukannya. Menurut Ericson, setidaknya terdapat lima faktor yang menyebabkan warisan Alhamidy semakin kurang dikenal.
“Pertama, bahasa Arab-Melayu yang semakin ditinggalkan oleh banyak orang. Kedua, sebagian keluarga dan muridnya tidak lagi melanjutkan perjuangan dakwah serta mengajarkan karya-karyanya. Ketiga, masih sedikit peneliti yang secara khusus mengkaji pemikiran dan karya Alhamidy,” jelasnya.
Ia melanjutkan, faktor lainnya adalah perubahan pemahaman terhadap peran ulama serta semakin berkurangnya minat generasi muda untuk mengenal ulama terdahulu dan membaca karya-karya mereka. Persoalan tersebut membuat banyak karya ulama masa lalu berisiko berhenti menjadi arsip, bukan lagi menjadi sumber ilmu yang dibaca dan dikaji.
“Kakek Ali” di Mata Keluarga
Bagi keluarga, Alhamidy bukan hanya seorang ulama dan tokoh organisasi. Ia adalah sosok yang dekat dengan kehidupan keluarga. Hal itu disampaikan Chalil Fauzat, cucu langsung Mualim Ali Alhamidy, yang turut hadir dalam seminar. “Kami memanggilnya Kakek Ali. Waktu kecil, kami sering melihat Kakek Ali menulis banyak buku. Kakek Ali yang kami kenal adalah orang yang humoris dan dekat dengan keluarga,” tuturnya.
Kesaksian tersebut menghadirkan sisi lain dari sosok Alhamidy. Di balik kiprahnya sebagai ulama, penulis, dan aktivis organisasi, ia tetap dikenang keluarga sebagai sosok yang hangat dan dekat dengan anak-cucu.
Menghidupkan Kembali Warisan Ulama Betawi
Seminar tersebut ditutup dengan sesi diskusi. Namun, gagasan untuk menghidupkan kembali warisan Alhamidy tampaknya baru saja dimulai.
Ericson berharap seminar tentang tokoh-tokoh bangsa dan ulama terdahulu dapat terus digalakkan. Menurutnya, pengenalan terhadap sejarah dan karya ulama penting agar generasi muda tidak tercerabut dari khazanah intelektual Islam yang telah dibangun generasi sebelumnya. Hadi Nur Ramadhan pun menyampaikan komitmen untuk melanjutkan kajian terhadap karya-karya Alhamidy. “Insyaallah, sebulan sekali kita akan bedah karya-karyanya,” ungkap Hadi.
Bagi generasi muda, terutama masyarakat Betawi, mengenal Mualim Md. Ali Alhamidy bukan sekadar mengenang satu nama dari masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi pintu untuk membaca kembali perjalanan dakwah, tradisi keilmuan, dan dinamika pemikiran Islam di Batavia. Sebab, sebelum sebuah nama benar-benar hilang dari ingatan, selalu ada kesempatan untuk membuka kembali buku-bukunya, menelusuri jejak perjuangannya, dan menghadirkan kembali gagasannya di tengah generasi hari ini.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Afkarmalik Hasan & Shofwan Azmi
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Berita
Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)
Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.
Berita
Ketua Umum Dewan Dakwah Hadiri Silaturahmi Bersama Menteri Koperasi, Bahas Penguatan Ekonomi Umat dan Kondisi Nasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK, MM., menghadiri pertemuan silaturahmi dan pengarahan (briefing) bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono serta sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam nasional, Rabu (4/11/2026).
Berita
Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional
Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.