Kembali ke Daftar Berita
Berita

Sambut 217 Da'i Dewan Dakwah Alumni STID Mohammad Natsir Pasca Pengabdian: Pulang Bukan Berarti Berhenti Berdakwah

Oleh Admin Dewan Dakwah • Jumat, 04 September 2026
Sambut 217 Da'i Dewan Dakwah Alumni STID Mohammad Natsir Pasca Pengabdian: Pulang Bukan Berarti Berhenti Berdakwah

Jakarta, dewandakwah.or.id — Masa pengabdian boleh selesai, tetapi perjalanan dakwah belum berakhir. Pesan itulah yang mengemuka dalam penyambutan 217 da’i dan da’iyah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir yang telah menuntaskan tugas pengabdian di berbagai penjuru Indonesia.

Jakarta, dewandakwah.or.id — Masa pengabdian boleh selesai, tetapi perjalanan dakwah belum berakhir. Pesan itulah yang mengemuka dalam penyambutan 217 da’i dan da’iyah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir yang telah menuntaskan tugas pengabdian di berbagai penjuru Indonesia.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menyambut kepulangan para alumni tersebut melalui rangkaian kegiatan yang digelar selama dua hari. Penyambutan da’i berlangsung pada Selasa (1/9/2026) di Aula Masjid Al-Furqon, Gedung Dewan Dakwah Pusat, Kramat Raya 45, Jakarta. Hari berikutnya, Rabu (2/9/2026), giliran para da’iyah yang disambut di Aula Sakinah Muslimat Center, Pusdiklat Dewan Dakwah, Cipayung, Jakarta Timur.

Sebanyak 217 da’i dan da’iyah tercatat telah menyelesaikan masa pengabdian selama satu hingga dua tahun. Mereka sebelumnya ditempatkan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari daerah pedalaman, perbatasan, pulau terluar, suku terasing hingga kawasan minoritas muslim.

Bagi Dewan Dakwah, kepulangan tersebut bukan sekadar berakhirnya masa penempatan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi bagian dari proses menjaga kesinambungan kader dan memastikan estafeta dakwah tetap berjalan.

Pulang ke Rumah Besar Dakwah

Ketua Bidang Penempatan dan Pembinaan Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Mohammad Firdaus, M.Kom.I., menyampaikan rasa syukur sekaligus ucapan selamat datang kepada para alumni yang telah kembali dari medan pengabdian.

“Ahlan wa sahlan. Selamat datang di rumah besar dakwah. Tak terasa _antum_ semua telah menyelesaikan pengabdian dakwah dari Sabang sampai Merauke,” ungkapnya.

Menurut Ustadz Firdaus, perjalanan yang telah dilalui para da’i dan da’iyah merupakan bagian dari amal pengabdian yang diharapkan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga niat dan amanah dakwah, bukan hanya ketika berada di lokasi penugasan, tetapi juga setelah kembali ke tengah masyarakat.

Ia menegaskan, selesainya masa pengabdian secara administratif tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya aktivitas dakwah.

“Mudah-mudahan hari ini lahir kembali para da’i yang siap ditugaskan ke mana saja, karena masih banyak titik yang kosong,” ujarnya.

Menurutnya, keperluan terhadap tenaga da’i masih sangat besar. Dewan Dakwah terus menerima permintaan dari berbagai daerah, termasuk wilayah yang memiliki banyak muallaf maupun kawasan yang belum memiliki pendamping dakwah secara berkelanjutan.

Karena itu, para alumni diharapkan tetap menjaga hubungan dengan jaringan Dewan Dakwah di berbagai daerah serta melanjutkan kontribusi sesuai kapasitas dan medan masing-masing.

Pengalaman selama berada di pedalaman, wilayah perbatasan, kepulauan, maupun kawasan dengan tantangan dakwah yang kompleks, kata Ustadz Firdaus, merupakan modal berharga yang tidak boleh berhenti menjadi kenangan pribadi.

Kemuliaan Bukan Sekadar Prestasi

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Dr. Adian Husaini, M.Si., dalam arahannya menekankan pentingnya meluruskan kembali cara pandang seorang Muslim mengenai kemuliaan, keberhasilan, dan kemajuan.

Ia mengapresiasi para alumni STID Mohammad Natsir yang telah menyelesaikan masa pengabdian. Menurutnya, pengalaman terjun langsung ke tengah masyarakat merupakan bagian penting dari proses pembentukan seorang da’i.

Ilmu yang diperoleh di bangku pendidikan, kata Ustadz Adian, tidak cukup hanya menjadi pengetahuan. Ilmu harus diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan kemanfaatan nyata bagi masyarakat.

STID Mohammad Natsir sendiri memiliki model pendidikan yang memadukan ilmu, keimanan, akhlak, dan pengabdian. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang alumni tidak semestinya hanya ditentukan oleh prestasi akademik, pekerjaan, jabatan, kekayaan, ataupun popularitas.

Ia mengingatkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Menurut Ustadz Adian, ayat tersebut memberikan standar kemuliaan yang berbeda dari ukuran yang sering digunakan dalam kehidupan modern. Kekayaan, kekuasaan, kecantikan, popularitas, maupun kedudukan bukanlah ukuran utama kemuliaan manusia di hadapan Allah.

“Yang paling mulia adalah yang bertakwa, yang akhlaknya mulia, dan yang berguna.”

Pesan tersebut menjadi penting bagi para alumni yang baru kembali dari medan dakwah. Sebab, pengalaman yang mereka peroleh selama mengabdi tidak semestinya berhenti sebagai cerita perjalanan, tetapi harus menjadi bekal untuk membaca persoalan umat dan meningkatkan kualitas kontribusi di masa depan.

Dari Medan Pengabdian Menuju Kontribusi Berkelanjutan

Ustadz Adian juga menekankan bahwa seorang da’i tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual. Seorang da’i harus mampu memahami keperluan masyarakat, membangun kedekatan dengan umat, dan menghadirkan manfaat nyata.

Salah satu tantangan umat saat ini, menurutnya, adalah kekeliruan dalam memahami makna kemajuan dan kemuliaan. Dalam perspektif Islam, kemajuan tidak sekadar diukur dari bertambahnya kemampuan, pencapaian akademik, kekayaan, atau keberhasilan menciptakan sesuatu yang baru.

Kemajuan juga harus tercermin dari semakin dekatnya manusia kepada Allah serta semakin besar manfaat yang diberikan kepada sesama.

Bagi para alumni STID Mohammad Natsir, pengalaman selama berada di medan pengabdian menjadi bekal penting untuk meneruskan perjuangan tersebut. Mereka telah berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat di berbagai wilayah Indonesia—mulai dari pedalaman, perbatasan, kepulauan, hingga kawasan yang memerlukan pendampingan keislaman secara berkelanjutan.

Momentum penyambutan pun menjadi ruang untuk mempertemukan kembali para da’i dan da’iyah dengan keluarga besar Dewan Dakwah setelah menjalankan amanah di berbagai daerah. Namun, kepulangan itu bukan garis akhir. Pengabdian boleh berakhir secara administratif, tetapi estafet dakwah harus terus berjalan.

Para alumni diharapkan tetap menjaga amanah, mempertahankan semangat pengabdian, serta menjadikan pengalaman di medan dakwah sebagai pijakan untuk terus memberikan manfaat bagi umat—baik bersama Dewan Dakwah maupun di lingkungan masyarakat tempat mereka melanjutkan kehidupan.

Dengan demikian, 217 alumni yang kembali bukan sekadar angka dalam catatan penempatan. Mereka adalah bagian dari mata rantai kader dakwah yang diharapkan mampu membawa semangat pengabdian dari pelosok Nusantara kembali ke tengah masyarakat, sekaligus siap kembali melangkah ketika panggilan dakwah datang.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da’i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026) Berita
05 November 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Liputan Nasional Sepekan Pendidikan Dewan Dakwah (26 Oktober – 01 November 2026)

Jakarta, dewandakwah.or.id - Bidang Pendidikan Dewan Da’wah terus berkomitmen memperkuat pendidikan Islam dan kaderisasi da’i melalui berbagai kegiatan di lembaga pendidikan Dewan Da’wah di seluruh Indonesia. Pada 26 Oktober, Akademi Da’wah Indonesia (ADI) NTB melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), sementara ADI Lampung menggelar halaqah Al-Qur’an rutin sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.

Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional Berita
05 November 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Dewan Dakwah Terima Kunjungan 30 Da'i Muda dari 6 Negara, Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Dakwah Internasional

Jakarta, dewandakwah.or.id — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menerima kunjungan Syaikh Abdul Majid dari Yayasan Nasihat dan Taujih bersama 30 dai muda dari enam negara, yakni Indonesia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kompetensi dai yang tengah berlangsung selama tiga bulan.