Kembali ke Daftar Berita
Catatan Haji

Catatan Haji 1447/2026 (10): Tanda Haji Mabrur: Hidup Bahagia dalam Perjuangan

Oleh Admin Dewan Dakwah • Rabu, 03 Juni 2026
Catatan Haji 1447/2026 (10): Tanda Haji Mabrur: Hidup Bahagia dalam Perjuangan

Ibadah haji tahun ini sungguh satu pengalaman pendidikan yang sangat dahsyat. Apalagi, saya diundang untuk berhaji oleh Raja Salman, bersama ratusan jamaah haji dari 140 negara. Inilah panggilan Allah. Inilah takdir Allah yang harus saya jalani dan sekaligus pengalaman pendidikan diri yang sangat berkesan.

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)

Ibadah haji tahun ini sungguh satu pengalaman pendidikan yang sangat dahsyat. Apalagi, saya diundang untuk berhaji oleh Raja Salman, bersama ratusan jamaah haji dari 140 negara. Inilah panggilan Allah. Inilah takdir Allah yang harus saya jalani dan sekaligus pengalaman pendidikan diri yang sangat berkesan. 

Haji adalah pendidikan diri yang dahsyat agar kita menjadi manusia yang layak masuk sorga. Disamping Rasululah saw, sosok yang banyak dikenang kehidupan dan perjuangannya dalam ibadah haji adalah Nabiyullah Ibrahim a.s. 

Beliau seorang pejuang penegak Tauhid dan menjadi contoh dalam perjuangan mendidik dan melahirkan generasi gemilang dan masyarakat yang bertauhid. Kemuliaan Ibrahim dan keluarganya itu diawali dari kokohnya keimanan dalam diri mereka. 

Ya, iman yang kokoh itulah dasar hidup bahagia. Yakni, hidup dalam perjuangan dan pengorbanan. Bagi orang mukmin, hidup bahagia adalah hidup di jalan yang lurus (shirathal mustaqim). 

Itulah doa yang setiap hari kita panjatkan dalam shalat. Kita ingin hidup sebagai pejuang, mengikuti jalan hidup para Nabi, para syuhada, orang-orang shaleh dan orang-orang jujur (Lihat: QS 4:69).

Iman atau keyakinan yang kuat itulah yang dimiliki oleh Ibrahim a.s., sehingga ia tidak ragu-ragu menceburkan dirinya dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Keyakinan adalah harta yang paling berharga dan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan (sa’adah). 

Karena itu, hilangnya iman atau keyakinan dalam diri seseorang adalah musibah terbesar dalam hidupnya! Penyair besar Pakistan, Mohammad Iqbal, pernah mengingatkan, bahaya pendidikan modern ala Barat yang juga menancapkan keraguan dan menghilangkan keyakinan dalam beragama. 

Hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, kata Iqbal, lebih buruk dari perbudakan. Itulah yang diingatkan Iqbal, berpuluh tahun lalu: “Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of  conviction is worse than slavery.” 

Jadi, kata Iqbal, keyakinan dalam diri seorang akan mendorong seorang rela mengorbankan dirinya. Karena itu, berhati-hatilah, wahai anda yang menjadi korban dari peradaban modern! Hilang keyakinan kepada Allah SWT, maka itu lebih buruk daripada perbudakan!

Jika hilang keyakinan, maka manusia akan menjadi budak setan dan budak hawa nafsunya! Hidupnya tidak akan bahagia. Hidupnya akan seperti binatang; mengejar syahwat satu ke syahwat lainnya. Hidupnya hanya untuk makan-makan dan senang-senang seperti binatang. (Lihat: QS 47:12). 

Hidupnya akan selalu gelisah karena jauh dari zikir kepada Allah SWT. Mungkin ia kaya, mungkin ia pemegang kuasa, mungkin ia cantik dan terkenal serta dipuja-puja dimana-mana. Tapi, ujung hidupnya adalah sengsara jiwa dan narkoba, bahkan bunuh diri. 

Semoga kita meraih haji mabrur dan hidup bahagia mengikuti jalan hidup para anbiya. Amin. (Ditulis dalam penerbangan Jeddah-Jakarta, 3 Juni 2026).

Berita Terkait