Kembali ke Daftar Berita
Catatan Haji

Catatan Haji 1447/2026 (9): Haji dan Penanaman Persepsi Ancaman Bersama

Oleh Admin Dewan Dakwah • Jumat, 29 Mei 2026
Catatan Haji 1447/2026 (9): Haji dan Penanaman Persepsi Ancaman Bersama

Salah satu ritual penting dalam rangkaian ibadah haji adalah melontar jumrah. Selama tiga hari saya menginap di Mina dan melontar batu kecil sebanyak 49. Sebagai muslim, saya melontar jumrah dengan niat ibadah saja. Itulah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)

Salah satu ritual penting dalam rangkaian ibadah haji adalah melontar jumrah. Selama tiga hari saya menginap di Mina dan melontar batu kecil sebanyak 49. Sebagai muslim, saya melontar jumrah dengan niat ibadah saja. Itulah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.  

Hanya saja, pemahaman dan kesadaran kita menjadikan setan sebagai musuh utama, memang sangat ditekankan dalam banyak ayat al-Quran dan hadits Nabi Muhammad saw. Bahkan, kisah Adam dan Iblis kisahkan berulang kali dalam beberapa surat al-Quran. Pesannya sangat jelas: kita jangan contoh perilaku Iblis! Dia memang pintar, tapi licik, durhaka dan berani menantang Tuhan. Satu lagi: dalam menyesatkan manusia, Iblis menggunakan cara-cara yang halus dan canggih. Kata-katanya menawan. Iblis tidak membentak-bentak Adam dan Hawa. Iblis bermuka manis, bertutur kata lembut dan sopan. 

Bahkan, Iblis menampakkan sikap yang sangat simpatik kepada Adam dan Hawa. Iblis bersikap sebagai teman akrab. Iblis bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa dia adalah sahabat karib yang menasehati Adam dan Hawa dengan tulus ikhlas (QS 7:21). 

Maka, kita diingatkan, musuh para Nabi dan pengikutnya adalah ’setan dari jenis manusia dan setan jenis jin’. Aktivitas setan-setan jenis manusia dan jin adalah dengan membisikkan kata-kata indah (zukhrufal qauli) untuk menipu manusia. (QS 6:112). 

Iblis  sudah terbukti sangat profesional dalam soal penyesatan manusia. Pemikiran, konsep, atau teori-teori  rusak  dan aneka perbuatan yang jelas-jelas buruk bisa dikemas dan dipropagandakan sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah bermanfaat, indah, menawan, dan mendapatkan dukungan masyarakat secara luas.  

“Zukhrufal qaul” atau kata-kata indah yang menipu manusia tentulah kata-kata yang tersusun secara sistematis dan disampaikan dengan cara yang menawan. Meskipun salah, tetapi jika kata-kata dikemas dengan indah dan disampaikan oleh orang-orang pintar, maka dampak kerusakannya akan sangat besar. 

Ulama yang sesat ilmunya tapi pintar dan punya banyak gelar lebih berpotensi menyesatkan masyarakat. Prof. Syamsyuddin Arif, dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, mengingatkan bahaya cendekiawan bermental Iblis. 

Ia menjelaskan beberapa ciri “cendekiawan bermental Iblis” itu. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121).         Kedua, ia “bermuka dua”;  menggunakan standar ganda (QS 2:14). Menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’). Ketiga, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Tujuannya, untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. (QS 22:3-4).

Malik Bin Dinar, seorang ulama terkenal (m. 130 H/748 M) berkata: “Sesungguhnya setan dari golongan manusia lebih berat bagiku daripada setan dari golongan jin. Sebab, setan dari golongan jin, jika aku telah membaca  ta’awudz, maka dia langsung menyingkir dariku, sedangkan setan dari golongan manusia dapat mendatangiku untuk menyeretku melakukan berbagai kemaksiatan secara terang-terangan.” (dikutip dari Imam al-Qurthubi, 7/68 oleh Dr. Abdul Aziz bin Shalih al-Ubaid, Menangkal Teror Setan (Jakarta: Griya Ilmu, 2004). 

Semoga kita meraih haji mabrur dan diselamatkan Allah dari berbagai macam godaan dan jebakan setan. Kita musuh bersama yang sangat nyata (QS 2:208). Tidak patut kita menjadikan sesama muslim sebagai musuh! (Mina, 29 Mei 2026).

Berita Terkait