18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara
Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.
Mentawai — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir.
Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau. Rabu, 19 Agustus 2026, perjalanan dakwah dua orang da’iyah ini resmi dimulai. Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, penerbangan menuju Kota Padang ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. Tepat pukul 11.46 WIB, pesawat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.
Rombongan disambut langsung oleh jajaran pengurus Dewan Dakwah Sumatra Barat melalui jamuan makan bersama dan silaturahmi yang hangat. Namun, akses menuju kepulauan terluar tidak bisa ditembus seketika. Jadwal keberangkatan kapal laut yang terbatas mengharuskan dua da'iyah itu menginap selama empat hari tiga malam di kantor Dewan Dakwah Sumbar untuk beristirahat sekaligus mematangkan kesiapan mental sebelum menyeberang.
Mengarungi Samudra Hindia Bersama KMP Gambolo
Ahad, 23 Agustus 2026, etape jalur laut akhirnya tiba. Bertolak dari Pelabuhan Bungus, Padang, perjalanan menuju Mentawai dilanjutkan menggunakan Kapal Gambolo. Penyeberangan membelah samudra luas ini memakan waktu tempuh hingga 18 jam.
Di sepanjang lintasan laut lepas, bentangan air biru yang menyejukkan sempat menghadirkan memori tersendiri. Hamparan laut mengingatkan dua da'iyah itu pada tanah kelahirannya yang berada jauh di ujung timur Indonesia. Rasa rindu pada kampung halaman sempat terlintas, namun panggilan amanah dakwah menguatkan niatnya: kali ini langkahnya tertuju untuk mengabdi di ujung barat Nusantara.
Menyusuri Pasar Berlubang Menuju Darul Ulum
Senin, 24 Agustus 2026, tepat pukul 12.50 WIB, setelah 18 jam membelah samudera, kapal akhirnya bersandar di Dermaga Havea, Kepulauan Mentawai. Di bibir dermaga, kedatangannya telah dinanti oleh pasangan da'i dan da’iyah senior, Ustaz Agus Nadi dan Isteri, keduanya juga alumni STID Mohammad Natsir yang sudah bertugas selama delapan tahun.
Perjalanan darat menuju lokasi pondok dilanjutkan menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 15 menit. Rute yang dilalui membelah kawasan pasar tradisional, jalanan aspal berpubang di beberapa titik. Deretan gerobak pedagang kaki lima dan langkah anak-anak pulau yang baru pulang sekolah menjadi pemandangan pertama yang menyambutnya di daratan Mentawai.
Tepat pukul 13.30 WIB, rombongan akhirnya tiba di Pondok Pesantren Darul Ulum Mentawai. Rasa letih menempuh perjalanan darat, udara, dan belasan jam diombang-ambing ombak samudra seketika terbayar saat melihat wajah-wajah ceria para santri yang menyambut kehadirannya dengan senyum hangat.
Menjaga keberlangsungan pendidikan Islam dan pembinaan akhlak di wilayah kepulauan terluar seperti Mentawai membutuhkan kehadiran para da'i pendidik yang tulus mendampingi generasi muda. Perjalanan panjang dan pengabdian para da'i dan da'iyah di pelosok negeri ini dapat terus terwujud berkat partisipasi zakat, infak, dan sedekah dari para donatur melalui Laznas Dewan Dakwah. Dukungan inilah yang menjaga lentera ilmu dan dakwah tetap benderang di garis terdepan kepulauan Nusantara.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Kabar Da'i
Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...
Kabar Da'i
Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...
Kabar Da'i
Membelah Samudera Menuju Pulau Pini, Jejak Da’i Muda di Batas Terluar Nias Selatan
Nias, dewandakwah.or.id — Wisuda bagi sebagian sarjana menjadi penanda berakhirnya masa belajar. Namun tidak bagi Ustaz Syukur Ilyas, hari itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang menuju sebuah pulau yang namanya bahkan belum pernah masuk dalam radar doanya: Pulau Pini, wilayah terluar di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.