Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Membelah Samudera Menuju Pulau Pini, Jejak Da’i Muda di Batas Terluar Nias Selatan

Oleh Admin Dewan Dakwah • Kamis, 17 September 2026
Membelah Samudera Menuju Pulau Pini, Jejak Da’i Muda di Batas Terluar Nias Selatan

Nias, dewandakwah.or.id — Wisuda bagi sebagian sarjana menjadi penanda berakhirnya masa belajar. Namun tidak bagi Ustaz Syukur Ilyas, hari itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang menuju sebuah pulau yang namanya bahkan belum pernah masuk dalam radar doanya: Pulau Pini, wilayah terluar di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.

Nias, dewandakwah.or.id — Wisuda bagi sebagian sarjana menjadi penanda berakhirnya masa belajar. Namun tidak bagi Ustaz Syukur Ilyas, hari itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang menuju sebuah pulau yang namanya bahkan belum pernah masuk dalam radar doanya: Pulau Pini, wilayah terluar di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.

Saat nama dan surat keputusan penugasannya dibacakan di hadapan para wisudawan STID Mohammad Natsir, Ustaz Syukur tahu bahwa perjalanan berikutnya bukan tentang memilih tempat yang mudah dijangkau. Ia akan berangkat ke sebuah wilayah yang memerlukan waktu berhari-hari untuk dicapai—melintasi udara, daratan, pelabuhan, hingga samudra terbuka.

Bagi seorang da’i muda, penugasan adalah tentang kesediaan menerima amanah di mana pun ia ditugaskan. Pada Rabu, 19 Agustus 2026, langkah itu dimulai. Ustaz Syukur terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Medan bersama rekan seperjuangannya, Ustaz Khairil Fatikin. Setibanya di ibu kota Sumatra Utara, keduanya disambut Ketua Dewan Dakwah Sumatra Utara beserta jajaran pengurus daerah. Dari Medan, kedua da'i itu berpisah jalan. Menuju tempat tugas masing-masing.

Dari Langit Nias hingga Tepian Samudra

Pada Jumat siang, 21 Agustus, Ustadz Syukur kembali melanjutkan perjalanan seorang diri. Atas arahan pengurus daerah dan da’i senior setempat, ia terbang menuju Pulau Nias. Pesawat mendarat di Bandara Gunungsitoli sekitar pukul 14.20 WIB. Tetapi Nias bukanlah tujuan akhir. Dari Gunungsitoli, perjalanan kembali dilanjutkan melalui jalur darat selama kurang lebih lima jam menuju Pelabuhan Teluk Dalam. Malam itu, Ustadz Syukur harus bermalam di tepian samudra, menunggu perjalanan berikutnya yang akan membawanya semakin jauh dari daratan.

Pagi berikutnya, 22 Agustus, perjalanan berganti medan. Kapal cepat menjadi kendaraan berikutnya. Selama sekitar lima jam, Ustadz Syukur membelah lautan menuju Pulau Tello. Pulau tersebut menjadi titik transit sekaligus ruang untuk membangun komunikasi. Beberapa hari dihabiskan untuk berkoordinasi dan bersilaturahmi dengan da’i senior, Camat Pulau Batu Timur, serta Kepala Desa Labuhan Bajau. Satu perjalanan terakhir masih menanti.

Lima Jam Diombang-ambing Samudra Menuju Pulau Pini

27 Agustus 2026 menjadi hari yang paling menentukan. Bersama Camat, Kepala Desa, dan Ketua Dewan Dakwah Nias Selatan, Ustadz Syukur menaiki perahu kecil menuju Pulau Pini. Laut lepas terbentang di hadapan mereka. Perahu terus bergerak menghadapi gelombang yang silih berganti menghantam lambung kapal. Selama kurang lebih lima jam, mereka berada di tengah samudra terbuka. Tidak ada jalan darat yang dapat ditempuh. Tidak ada rute singkat untuk memangkas perjalanan. Hanya perahu kecil, gelombang laut, dan tujuan yang terus dikejar.

Sekitar pukul 20.15 WIB, perahu akhirnya merapat di Desa Labuhan Bajau. Setelah perjalanan berhari-hari yang menguras tenaga—dari pesawat, kendaraan darat, kapal cepat, hingga perahu kecil di tengah laut— Ustadz Syukur akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Pini. Namun rasa lelah itu seolah luruh ketika warga telah menunggu di dermaga. Sambutan hangat masyarakat menjadi penanda bahwa perjalanan panjang tersebut telah menemukan ujungnya. Sekaligus menjadi awal dari perjalanan yang sesungguhnya.

Ketika Dakwah Hadir di Ujung Pulau

Di Desa Labuhan Bajau, pengabdian tidak membutuhkan waktu untuk menunggu. Kehadiran Ustadz Syukur sebagai da’i muda menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kembali pembinaan keagamaan bagi masyarakat dan anak-anak di wilayah tersebut. Ruang belajar pun kembali hidup. Anak-anak pulau duduk berbaris di atas tikar. Mereka menyimak bimbingan, belajar membaca, dan melafalkan huruf demi huruf Al-Qur’an.

Di tempat yang harus ditempuh melalui perjalanan panjang dan laut lepas itu, aktivitas sederhana tersebut memiliki arti penting. Sebab dakwah tidak hanya tentang seberapa ramai sebuah majelis, tetapi juga tentang memastikan pembinaan tetap menyala di tempat-tempat yang jauh dari pusat keramaian.

Di tepian terluar Nias Selatan, langkah dakwah da’i muda kini berlanjut. Setelah menempuh perjalanan panjang membelah udara, daratan, dan samudra, Ustadz Syukur Ilyas memulai tugasnya—menemani masyarakat, membina generasi, dan menjaga agar cahaya Al-Qur’an tetap menyala di sudut terjauh Nusantara.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da’i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.