Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah untuk mengabdikan diri sebagai da’iyah Dewan Dakwah.
Ada haru yang menyertai kepulangan itu. Namun di baliknya terselip pertanyaan yang terus mengendap: mampukah ia menjawab harapan dakwah di tanah tempat dirinya dahulu tumbuh? Jawabannya tidak cukup dengan kata-kata. Ia harus menjalaninya.
Perjalanan Pertama Menembus Langit Nusantara
Rabu, 19 Agustus 2026 dini hari menjadi awal perjalanan Arbiatul menuju medan pengabdian. Ia berangkat bersama rombongan dari Kampus Putri STID Mohammad Cipayung Jakarta Timur. Jadwal keberangkatan yang semula direncanakan pukul 03.00 WIB dimajukan menjadi pukul 01.00 WIB. Waktu istirahat pun nyaris tak tersisa. Bus rombongan melaju membelah jalanan Jakarta menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan tiba sekitar pukul 03.20 WIB. Tiga jam kemudian, tepat pukul 06.00 WIB, pesawat lepas landas menuju Kupang.
Bagi Arbiatul, penerbangan tersebut bukan sekadar perjalanan menuju lokasi penugasan. Itu adalah penerbangan pertamanya sepanjang hidup. Selam ini, ia selalu menggunakan Kapal Laut dari NTT ke Jakarta demikian juga sebaliknya. Selama sekitar empat jam berada di atas awan, ia menyaksikan bentangan samudera dan gugusan pulau Nusantara dari balik jendela pesawat. Sekitar pukul 10.00 WIB, pesawat mendarat di Bandara El Tari, Kupang. Dari empat da’i yang ditugaskan ke wilayah NTT, Arbiatul menjadi satu-satunya da’iyah yang kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi.
Pulang ke Tempat Pernah Berproses
Setelah mengabari Ketua Dewan Dakwah NTT, penjemputan tiba sekitar setengah jam kemudian. Rombongan kemudian diarahkan menuju kediaman pengurus Dewan Dakwah NTT di kompleks Panti Nursaadah, Kota Kupang. Di tempat tersebut, Arbiatul beristirahat, menyantap makan siang, dan menunaikan salat Zuhur.
Pukul 12.20 WITA, perjalanan kembali dilanjutkan bersama seorang da’iyah purnatugas menuju Markas Asrama Akademi Da’wah Indonesia (ADI) Kupang. Ada sesuatu yang berbeda ketika Arbiatul kembali menjejakkan kaki di asrama tersebut. Tempat itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah ia pernah menjalani proses panjang pembinaan, menjemput hidayah, belajar, dan menyelesaikan masa studi bersama rekan-rekan seperjuangan yang kini telah tersebar di berbagai medan dakwah. Kini ia kembali bukan sebagai santri yang belajar, tetapi sebagai seorang da’iyah yang membawa amanah untuk membina umat.
Dari Tanda Tanya Menjadi Amanah
Kepastian lokasi penempatan sempat menjadi tanda tanya. Surat tugas awal hanya menyebutkan penempatan di wilayah pedalaman NTT tanpa menyebutkan titik secara spesifik. Hampir sepekan Arbiatul menunggu kepastian sembari mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan medan pengabdian. Hingga akhirnya, keputusan syuro disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Dakwah NTT, Ustadz Muhammad Ramli.
Arbiatul ditetapkan untuk menjalankan tugas selama satu tahun di ADI Kupang. Ia mendapat amanah untuk memperkuat Muslimat Dewan Dakwah NTT sekaligus mendampingi masyarakat di sekitar lokasi penugasan. Amanah itu pun segera berjalan. Tak lama setelah penetapan, Arbiatul dipercaya menjadi moderator dalam Seminar Muslimah Muda yang diinisiasi Muslimat Dewan Dakwah NTT.
Forum tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi muda, khususnya remaja putri di Kota Kupang, agar memiliki bekal keislaman dan ketahanan moral di tengah tantangan pergaulan. Bagi Arbiatul, tugas tersebut menjadi langkah awal untuk menghidupkan peran dakwah dari lingkungan terdekat.
Membawa Syiar hingga Pesisir Ende
Di tengah proses awal pengabdiannya di Kupang, kesempatan lain datang. Ustadz Muhammad Ramli memberikan izin kepada Arbiatul untuk pulang selama sepekan ke kampung halamannya di Kabupaten Ende, Pulau Flores. Kepulangan tersebut bukan sekadar melepas rindu kepada keluarga. Ia membawa misi lain: mengenalkan syiar dakwah secara langsung kepada masyarakat di tanah kelahirannya.
Wilayah Ende sendiri baru saja mengalami gempa bumi pada 15 Agustus 2026 dan masih menghadapi rentetan gempa susulan. Pada 5 September 2026, Arbiatul menumpang Kapal Wilis menuju Flores. Setelah menempuh perjalanan laut, kapal merapat di Pelabuhan Kota Ende pada 6 September sekitar pukul 08.00 WITA.
Ada sebuah simbol sederhana yang terus ia bawa sepanjang perjalanan. Rompi LAZNAS Dewan Dakwah melekat di tubuhnya, sementara bendera Dewan Dakwah turut dikibarkan. Bukan sekadar atribut, tetapi bagian dari ikhtiar memperkenalkan nama dan gerakan dakwah kepada masyarakat yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Dari pelabuhan hingga kampung halaman, Arbiatul ingin kehadiran dakwah mulai dikenal. Harapannya sederhana: suatu hari, pembinaan umat dapat menjangkau hingga kampung halamannya sendiri di pesisir laut, Kampung Barai, Desa Borokanda.
Dari Tanah Kelahiran, Menyambung Estafet Dakwah
Kisah Arbiatul menjadi gambaran bahwa medan dakwah terkadang tidak selalu berada di tempat yang telah direncanakan. Surat tugas bisa menyebut satu wilayah. Namun, amanah dapat membawa seseorang ke tempat lain—bahkan kembali ke tanah tempat ia dahulu tumbuh dan berproses.
Di tengah masyarakat minoritas Muslim, dakwah memerlukan keteguhan, kesabaran, dan kesinambungan pembinaan. Kehadiran seorang da’iyah bukan hanya tentang menyampaikan ceramah, tetapi juga membangun kedekatan, menjadi pendamping, dan menumbuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan. Langkah Arbiatul di NTT masih panjang.
Dari Kupang hingga pesisir Ende, ia sedang menapaki satu demi satu jejak pengabdian. Dari tanah kelahirannya, ia ingin ikut menyambung estafet dakwah agar cahaya pembinaan umat terus menjangkau wilayah-wilayah yang memerlukan. Perjalanan para da’i dan da’iyah di pelosok Nusa Tenggara Timur juga tidak terlepas dari dukungan masyarakat. Amanah zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan melalui LAZNAS Dewan Dakwah menjadi salah satu penopang keberlangsungan program dakwah dan pembinaan umat. Dukungan tersebut menjaga roda dakwah tetap bergerak—menyapa masyarakat, mendampingi umat, dan menghadirkan pembinaan hingga ke pelosok dan pesisir Nusantara.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Kabar Da'i
Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...
Kabar Da'i
18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara
Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.
Kabar Da'i
Membelah Samudera Menuju Pulau Pini, Jejak Da’i Muda di Batas Terluar Nias Selatan
Nias, dewandakwah.or.id — Wisuda bagi sebagian sarjana menjadi penanda berakhirnya masa belajar. Namun tidak bagi Ustaz Syukur Ilyas, hari itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang menuju sebuah pulau yang namanya bahkan belum pernah masuk dalam radar doanya: Pulau Pini, wilayah terluar di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.