Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos., Ustadzah Nurhaida, S.Sos., dan Ustadzah Ellenda Shenia, S.Sos.
Namun, perjalanan udara tersebut sempat tertahan. Kabut asap yang semakin tebal di wilayah Kalimantan Tengah menyebabkan penerbangan mengalami penundaan sekitar dua jam. Bagi para da’i, keterlambatan itu seolah menjadi pengantar pertama sebelum memasuki medan pengabdian. Bahkan sebelum tiba di lokasi tugas, kondisi alam telah lebih dahulu memberikan gambaran mengenai tantangan yang menanti. Setelah menunggu, pesawat akhirnya lepas landas sekitar pukul 12.30 WIB. Perjalanan menuju Sampit berlangsung kurang lebih satu jam empat puluh menit.
Sekitar pukul 14.10 WIB, pesawat melakukan pendaratan di Bandara H. Asan, Sampit. Dari balik jendela pesawat, kabut asap terlihat menyelimuti kawasan sekitar bandara. Semakin mendekati daratan, pekatnya asap semakin terasa. Ada haru yang menyelinap di tengah pemandangan tersebut. Para da’i sadar, mereka tidak sedang sekadar berpindah kota atau melakukan perjalanan biasa. Mereka datang ke sebuah wilayah yang sedang menghadapi persoalan, sementara di tengah kondisi itulah amanah dakwah menanti untuk ditunaikan.
Dijemput Tim Dakwah Kotawaringin Timur
Setibanya di Bandara H. Asan, rombongan disambut Ustadz Dwi Sulistio, Ketua Dewan Dakwah Kotawaringin Timur, bersama istri dan Ustadz Zul yang juga merupakan bagian dari tim dakwah Dewan Dakwah di wilayah tersebut. Dari bandara, rombongan menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit menuju tempat tinggal yang telah disiapkan. Setelah meletakkan barang-barang bawaan, perjalanan dilanjutkan sekitar lima menit menuju kediaman ayahanda Ustadz Dwi Sulistyio.
Di sana, para da’i disambut dengan hidangan dan keramahan. Pertemuan tersebut bukan sekadar jamuan setelah perjalanan panjang. Di tengah suasana kekeluargaan, para da’i mulai mendapatkan gambaran mengenai peta dakwah di Kotawaringin Timur. Kondisi masyarakat, tantangan dakwah, karakter wilayah, hingga medan pengabdian menjadi bagian dari pembicaraan. Sedikit demi sedikit, gambaran tentang medan yang akan mereka hadapi mulai terbentuk.
Namun, satu hal terasa begitu kuat sejak awal kedatangan: Kalimantan Tengah sedang tidak baik-baik saja. Datang Saat Masyarakat Menghadapi Asap dan Kekeringan. Musim kemarau yang panjang telah memicu kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah. Kabut asap menyelimuti udara dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Dampaknya pun tidak berhenti pada terganggunya jarak pandang. Sebagian masyarakat menghadapi kesulitan memperoleh air bersih, sementara kualitas udara yang menurun turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya pada sistem pernapasan. Panas yang menyengat dan udara yang jauh dari kondisi normal menjadi pengalaman awal para da’i. Di titik itu, medan dakwah terasa bukan lagi sekadar cerita.
Para da’i datang ke tengah masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Mereka hadir di tengah panas, asap, keterbatasan air, serta berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya dengan menyampaikan pesan kebaikan dari mimbar. Ada saatnya dakwah berarti hadir, mendengarkan, memahami, membersamai, dan berusaha memberikan manfaat.
Langkah Berpencar, Amanah Tetap Satu
Kebersamaan rombongan tidak berlangsung lama. Setelah tiba di Kotawaringin Timur, para da’i dan da’iyah akan menuju lokasi tugas masing-masing. Mereka akan berpisah menuju medan dakwah yang berbeda, bertemu masyarakat dengan karakter dan persoalan yang tidak sama. Perjalanan bersama dari Jakarta perlahan akan berganti dengan perjuangan masing-masing di tempat pengabdian.
Tidak akan ada lagi kebersamaan setiap hari seperti saat perjalanan menuju Kalimantan Tengah. Namun, perbedaan lokasi tidak berarti perbedaan tujuan. Setiap langkah tetap diarahkan pada satu amanah: menunaikan tugas dakwah dan menghadirkan kebermanfaatan di tempat Allah menitipkan mereka. Perjalanan tersebut juga menghadirkan ruang untuk kembali mensyukuri berbagai nikmat yang selama ini mudah dianggap biasa—udara yang bersih, air yang mudah diperoleh, kesehatan, dan kenyamanan hidup.
Di Kalimantan Tengah, para da’i melihat secara langsung bahwa nikmat tersebut tidak selalu mudah dirasakan oleh semua orang. Pengalaman itu menjadi pelajaran penting sebelum mereka benar-benar memasuki medan pengabdian. Menjadi da’i dan da’iyah bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata kebaikan. Dalam kondisi tertentu, dakwah menuntut seseorang untuk hadir ketika keadaan tidak nyaman, membersamai masyarakat ketika menghadapi kesulitan, serta tetap melangkah ketika medan pengabdian tidak mudah.
Kini, langkah mereka akan berpencar. Ada yang menuju satu wilayah, ada yang menuju wilayah lainnya. Masing-masing membawa amanah, bekal ilmu, dan harapan yang sama: agar kehadiran mereka membawa manfaat bagi masyarakat. Di bawah langit Kalimantan yang diselimuti asap, perjalanan itu baru saja dimulai.
Sebab ketika dakwah menuntun langkah ke tanah yang sedang menghadapi ujian, yang dibutuhkan bukan hanya keberanian untuk datang, tetapi juga keteguhan untuk bertahan, kesediaan untuk membersamai, dan keikhlasan untuk terus memberikan manfaat. Semoga Allah menjaga setiap langkah para da’i dan da’iyah, menguatkan hati mereka dalam menghadapi kesulitan, serta memberikan keberkahan pada setiap tempat yang menjadi medan pengabdian. Sebab langkah boleh berpencar, tetapi amanah dakwah tetap satu.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da’i Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Kabar Da'i
Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...
Kabar Da'i
18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara
Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.
Kabar Da'i
Membelah Samudera Menuju Pulau Pini, Jejak Da’i Muda di Batas Terluar Nias Selatan
Nias, dewandakwah.or.id — Wisuda bagi sebagian sarjana menjadi penanda berakhirnya masa belajar. Namun tidak bagi Ustaz Syukur Ilyas, hari itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang menuju sebuah pulau yang namanya bahkan belum pernah masuk dalam radar doanya: Pulau Pini, wilayah terluar di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.