Kembali ke Daftar Berita
Catatan Haji

Catatan Haji 1447/2026 (6): Haji dan Runtuhnya Rasisme Yahudi

Oleh Admin Dewan Dakwah • Minggu, 24 Mei 2026
Catatan Haji 1447/2026 (6): Haji dan Runtuhnya Rasisme Yahudi

Kehadiran Nabiyullah Ibrahim a.s. sebagai sosok penting dalam rangkaian ibadah haji sejatinya merupakan satu petunjuk bagaimana Islam mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia. Islam memuliakan manusia berdasarkan iman dan taqwa. “Yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS 49:13).

Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)

Kehadiran Nabiyullah Ibrahim a.s. sebagai sosok penting dalam rangkaian ibadah haji sejatinya merupakan satu petunjuk bagaimana Islam mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia. Islam memuliakan manusia berdasarkan iman dan taqwa. “Yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS 49:13). 

Konsep Islam itu bertabrakan secara diametral dengan konsep Yahudi yang rasis; mengaku sebagai bangsa paling mulia karena berdarah Yahudi. (Lihat QS 62:4). Mereka mengaku sebagai bangsa pilihan Tuhan, sehingga merasa berhak menguasai negeri yang dijanjikan Tuhan (the promised land). 

Yahudi merasa mulia karena mengaku sebagai anak cucu yang sah dari Ibrahim. Jadi, konsep kemuliaan mereka didasarkan atas hubungan darah; bukan karena iman dan taqwa. Penjajahan Yahudi atas Palestina, hingga kini, masih didasarkan atas klaim Bibel mereka.

Diceritakan dalam Bible, Abram pergi ke tanah Kanaan. Ketika itu Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.”  (Kejadian, 12:7). Oleh kaum Yahudi, negeri yang disebut dalam Bible itu lalu dijadikan dasar untuk mengklaimnya sebagai “Tanah yang Dijanjikan” (The Promised Land).  

Kitab Kejadian 15:18 menyebutkan: Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari Sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”  Kitab Yosua 21:43 menyebutkan: “Jadi seluruh negeri itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, yakni negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.” 

Begitulah mitos dan klaim Yahudi sebagai bangsa paling mulia dan memiliki hak menguasai Tanah Palestina dan sekitarnya. Ibadah haji meruntuhkan mitos-mitos dan klaim-klaim kaum Yahudi itu. Jutaan orang berkumpul di satu tempat Ibadah haji yang begitu dahsyat menapaktilasi perjuangan Nabiyullah Ibrahim dalam menegakkan kalimah Tauhid dan membangun peradaban mulia.

Bahkan, setiap hari dalam shalat, kaum muslim berdoa untuk Nabi Muhammad saw dan juga langsung dikaitkan dengan doa untuk Nabi Ibrahim a.s. Itu menunjukkan, betapa dekatnya sosok Nabi Ibrahim itu dengan kaum muslim. Kedekatan kita dengan Nabi Ibrahim a.s. semata-mata karena kedekatan iman. Kita sama-sama memeluk agama Tauhid dan mencintai keadilan. 

Jika Yahudi mengklaim bahwa Abraham adalah “Bapak Yahudi”, maka Al-Quran menegaskan:  “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3: 67). 

Kini, Rasisme Yahudi sudah runtuh. Pasca 7 Oktober 2023, dunia sudah berubah. Hampir semua negara tidak lagi mendukung klaim-klaim rasisme Zionis Yahudi. Sejarawan Israel Ilan Pappe menyebut saat ini adalah tahap akhir Zionisme (this is the last phase of Zionism). Dominasi lobi Yahudi di AS pun sudah runtuh, setidaknya jauh berkurang, sehingga seorang Zohran Mamdani bisa terpilih menjadi Walikota New York.

Memang, secara militer negara Zionis Israel masih kuat. Tapi, mitos dan klaim rasisme mereka sudah runtuh! 

Semoga kita meraih haji mabrur! InsyaAllah negara Palestina merdeka dan berdaulat segera berdiri! Amin. (Makkah, 25 Mei 2026).

Berita Terkait