Catatan Haji 1447H/2026 (2). Haji dan Amanah Keunggulan Bangsa
Hari pertama di Kota Mekkah (20/5/2026) langsung diisi dengan ibadah umrah. Kami – rombongan haji undangan Raja Salman – baru masuk kamar hotel sekitar 40 menit menjelang azan subuh waktu Makkah. Alhamdulillah, masih terkejar solat subuh berjamaah.
Oleh: Dr. Adian Husaini (Ketua Umum Dewan Dakwah)
Hari pertama di Kota Mekkah (20/5/2026) langsung diisi dengan ibadah umrah. Kami – rombongan haji undangan Raja Salman – baru masuk kamar hotel sekitar 40 menit menjelang azan subuh waktu Makkah. Alhamdulillah, masih terkejar solat subuh berjamaah.
Istirahat sebentar. Sarapan. Pukul 08.00 pagi kami bertolak menuju Masjidil Haram. Thawaf dan sa’i memerlukan kesehatan dan kekuatan fisik yang prima. Meskipun pernah haji tahun 1996 dan beberapa kali umrah, tetapi thawaf dan sa’i kali ini menjadi tantangan berat.
Sebab, bulan 25 Agustus 2024, saya terkena serangan osteo arthritis (radang sendi) lutut. Saya sempat tidak bisa berjalan. Untuk berdiri pun harus dibantu. Beberapa bulan saya harus istirahat di rumah dan terpaksa mengkonsumsi obat pereda nyeri dari dokter.
Alhamdulillah, setelah berjuang beberapa bulan, dengan rahmat Allah, saya bisa berjalan kembali. Hampir tiap hari saya usahakan berenang. Plus, intermitten fasting. Sayangnya, masih belum bisa meninggalkan sama sekali makanan-makanan yang kurang beradab.
Sejak sakit lutut itu, saya mengganti olah raga jalan kaki menjadi renang dan sepeda statis. Jadi, pengalaman thawaf dan sa’i kali ini benar-benar menjadi perjuangan berat karena harus berjalan sekitar 7 kilometer. Ditambah, umur sudah 60 tahun.
Tapi, saya lihat ada beberapa orang tua tampak bersemangat, meskipun kondisinya tidak lebih baik dari saya. Maka, saya pun bertekad untuk menyelesaikan thawaf dan sa’i.
Alhamdulillah, menjelang shalat dhuhur, saya bisa menyelesaikan ibadah umrah. Saya keluar dari pintu Shafa, dan salah jalan. Terpaksa harus berkeliling mencari jalan menuju kendaraan. Terpaksa berjalan lagi beberapa kilometer.
Alhamdulillah, hikmahnya sangat besar. Sempat shalat dhuhur di luar Masjidil Haram dan diajak makan oleh Dr. Musadad, alumnus S3 UIKA Bogor yang sudah 11 tahun menjadi penerjemah di Masjidil Haram. Ada saja hikmah dibalik “penderitaan”.
Ibadah umrah kemarin kembali mengingatkan betapa pentingnya pendidikan jiwa-raga. Al-Quran menekankan pentingnya kekuatan fisik dalam kehidupan dan perjuangan. Pemimpin yang hebat adalah yang kuat ilmu dan fisiknya (QS 2:247). Nabi diperintah untuk mendidik para sahabatnya agar memiliki kekuatan berkali-kali lipat dari kaum kuffar (QS 8:65-66).
Rasulullah saw pun memberikan panduan penting: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah!”
Saya merasa terpukul jika merenungkan ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi yang memerintahkan agar orang mukmin menjadi orang yang kuat. Presiden Prabowo, dalam bukunya, Paradoks Indonesia juga mengutip kata-kata Thuycidides: “The strong what they can the weak suffer what they must!”
Jadi, sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, maka Indonesia harus menjadi bangsa muslim terkuat dan terbaik: harus kokoh imannya, terbaik akhlaknya, dan kuat fisiknya. Itulah amanah lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!”
Bangunlah jiwanya! Agar kita menjadi bangsa yang jujur, tidak malas, bijak, dan pemberani! Bangunlah badannya! Agar rakyat kita sehat dan kuat!
Inilah salah satu pelajaran penting dari ibadah haji! Semoga Allah SWT memberikan bimbingan dan pertolongan kepada para pemimpin dan ulama kita, juga kepada kita semua. Amin. (Makkah, 21 Mei 2026).
Berita Terkait
Catatan Haji
Catatan Haji 1447/2026 (10): Tanda Haji Mabrur: Hidup Bahagia dalam Perjuangan
Ibadah haji tahun ini sungguh satu pengalaman pendidikan yang sangat dahsyat. Apalagi, saya diundang untuk berhaji oleh Raja Salman, bersama ratusan jamaah haji dari 140 negara. Inilah panggilan Allah. Inilah takdir Allah yang harus saya jalani dan sekaligus pengalaman pendidikan diri yang sangat berkesan.
Catatan Haji
Catatan Haji 1447/2026 (9): Haji dan Penanaman Persepsi Ancaman Bersama
Salah satu ritual penting dalam rangkaian ibadah haji adalah melontar jumrah. Selama tiga hari saya menginap di Mina dan melontar batu kecil sebanyak 49. Sebagai muslim, saya melontar jumrah dengan niat ibadah saja. Itulah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw.
Catatan Haji
Catatan Haji 1447/2026 (8): Haji dan Deklarasi Kesempurnaan Agama
Tidak diragukan lagi! Arafah adalah puncak ibadah haji. Jutaan manusia berkumpul dengan niat, ucapan, gerak dan doa yang sama! Ribuan tahun, ritual seperti ini telah berlangsung. Ini bukan ritual bikinan manusia. Ini ritual budaya Arab. Ini ritual dari Tuhan Yang Maha Esa.