Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Menembus Pegunungan Tana Toraja, Da’i Muda Dewan Dakwah Mengabdi di Tondok Lemoh

Oleh Admin Dewan Dakwah • Sabtu, 29 Agustus 2026
Menembus Pegunungan Tana Toraja, Da’i Muda Dewan Dakwah Mengabdi di Tondok Lemoh

Jakarta, dewandakwah.or.id — Pukul 02.00 WIB dini hari, aktivitas mulai terlihat di Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat. Tas-tas carrier dinaikkan ke dalam kendaraan. Para da’i muda angkatan 2026 bersiap meninggalkan ibu kota menuju wilayah pengabdian masing-masing.

Jakarta, dewandakwah.or.id — Pukul 02.00 WIB dini hari, aktivitas mulai terlihat di Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat. Tas-tas carrier dinaikkan ke dalam kendaraan. Para da’i muda angkatan 2026 bersiap meninggalkan ibu kota menuju wilayah pengabdian masing-masing.

Keberangkatan tersebut bukan sekadar perjalanan dari satu daerah ke daerah lain. Di balik setiap langkah, terdapat amanah dakwah yang harus dijalankan di tengah masyarakat dengan kondisi geografis, budaya, dan tantangan yang beragam.

Salah satunya adalah Ustadz Okta Rio Zulkifli, da’i asal Prabumulih, Sumatera Selatan, yang mendapat amanah berdakwah di Desa Tondok Lemoh, Lembang Bo’ne Buntu Sisong, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.


Tiga Bekal Sebelum Menempuh Perjalanan

Sebelumnya, pada Rabu (19/8/2026), Ustadz Okta bersama rombongan da’i berangkat dari Jakarta menuju Makassar. Sebelum pesawat lepas landas, ia mendapatkan tiga pesan sederhana dari sesama da’i yang kemudian menjadi bekal dalam menjalankan tugas.

Pertama, membuang jarak dengan masyarakat. Kedua, bergerak dengan totalitas agar kehadiran da’i benar-benar memberikan manfaat. Ketiga, bertawakal kepada Allah setelah mengerahkan ikhtiar terbaik.

Pesan tersebut kemudian menemukan ujiannya ketika perjalanan memasuki medan pengabdian.

Setelah tiba di Makassar dan beristirahat sejenak di Kantor Dewan Dakwah Makassar, perjalanan dilanjutkan menuju Tana Toraja pada Kamis (20/8/2026). Perjalanan darat ditempuh sekitar 8 hingga 12 jam.

Setibanya di Tana Toraja pada malam hari, rombongan bermalam di salah satu pondok pesantren. Lokasi tugas akhir masih berada di kawasan pegunungan sehingga perjalanan kembali dilanjutkan sekitar satu jam pada keesokan harinya.

Menembus Jalan Pegunungan Menuju Tondok Lemoh

Jumat (21/8/2026), sebelum melanjutkan perjalanan, Ustadz Okta sempat mengajar tahsin dan tajwid kepada santri dan santriwati kelas tujuh di pondok pesantren setempat.

Selepas Ashar, perjalanan menuju lokasi pengabdian dimulai. Kepala Lembang secara langsung menjemput dan mengantarkan Ustadz Okta menuju Desa Tondok Lemoh.

Medan yang dilalui tidak mudah. Jalan pegunungan yang curam, tanjakan dan turunan, tikungan tajam, serta sisi jalan yang berbatasan langsung dengan jurang menjadi bagian dari perjalanan. Udara dingin pegunungan turut mengiringi perjalanan menuju lokasi pengabdian.

Sesampainya di desa, Ustadz Okta diterima untuk tinggal bersama salah seorang tokoh masyarakat setempat, Pak Imam.

Dakwah Tidak Menunggu Sebuah Mimbar Berdiri

Sejak awal masa pengabdian, pendekatan kepada masyarakat justru dimulai dari aktivitas sederhana. Ustadz Okta mengikuti silaturahmi ke kantor kepala desa, bergotong royong memperbaiki jalan warga, hingga ikut dalam pengecoran rumah masyarakat.

Kehadiran di tengah aktivitas warga menjadi langkah awal untuk membangun kedekatan sekaligus kepercayaan. Pesan yang ia terima sebelum berangkat pun menemukan bentuk nyatanya: membuang jarak dengan masyarakat dan hadir memberikan manfaat.

Dakwah Dimulai dari Kedekatan

Bagi seorang da’i yang ditempatkan di wilayah baru, kehadiran di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari proses dakwah. Tidak hanya menyampaikan ilmu dan nasihat, tetapi juga ikut merasakan kehidupan serta kebutuhan masyarakat yang menjadi tempat pengabdian.

Perjalanan Ustadz Okta menuju Tondok Lemoh menunjukkan bahwa medan dakwah dapat dimulai jauh sebelum ceramah disampaikan. Jalan yang sulit, perjalanan panjang, serta kehidupan bersama masyarakat menjadi bagian dari proses belajar dan pengabdian.

Dari Jakarta menuju Makassar, kemudian menempuh perjalanan darat menuju Tana Toraja hingga akhirnya memasuki kawasan pegunungan Tondok Lemoh, langkah tersebut menjadi awal dari amanah dakwah yang lebih panjang.

Dengan bekal ikhtiar, totalitas, kedekatan dengan masyarakat, dan tawakal kepada Allah, Ustadz Okta memulai tugasnya sebagai da’i muda Dewan Dakwah di tengah masyarakat Tondok Lemoh.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.