Menyeberangi Lautan, Jejak Dua Da'iyah Menuju Pulau Moro
Tanjungpinang, dewandakwah.or.id — Ketika sebagian besar Jakarta masih terlelap, langkah para da’i dan da’iyah Dewan Dakwah sudah dimulai. Jam menunjukkan pukul 01.45 WIB, Selasa, 19 Agustus 2026. Dari Kampus C STID Mohammad Natsir, rombongan bergerak menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Tanjungpinang, dewandakwah.or.id — Ketika sebagian besar Jakarta masih terlelap, langkah para da’i dan da’iyah Dewan Dakwah sudah dimulai. Jam menunjukkan pukul 01.45 WIB, Selasa, 19 Agustus 2026. Dari Kampus C STID Mohammad Natsir, rombongan bergerak menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Jalanan ibu kota yang lengang menjadi saksi awal sebuah perjalanan panjang. Sekitar pukul 03.30 WIB, rombongan tiba di bandara. Setelah merapikan bawaan, Ustazah. Haya Raihani Sholihah, S.Sos & Ustazah. Candra Wati, S.Sos memproses bagasi di Terminal 2D, dan menunaikan salat Subuh berjamaah, mereka bergeser ke Terminal 2E.
Pukul 09.45 WIB, pesawat mengudara. Tujuannya bukan sekadar sebuah kota di ujung Sumatra, tetapi medan pengabdian di gugusan pulau Kepulauan Riau. Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang. Perwakilan Dewan Dakwah Wilayah Kepulauan Riau menyambut kedatangan rombongan. Makan siang dan perjalanan singkat melewati sejumlah ikon daerah, termasuk Gedung Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau, menjadi jeda sebelum rombongan beristirahat dan bersiap menghadapi perjalanan berikutnya.
Menyusuri Napas Bahari Bumi Melayu
Rabu, 20 Agustus 2026, menjadi hari untuk mengenali wajah Tanjungpinang dan denyut kehidupan masyarakat kepulauan. Pagi diawali dengan berjalan menyusuri Tugu Sirih dan tepian pantai, kemudian berkunjung ke Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Di kota ini, laut bukan sekadar bentang geografis. Laut menjadi bagian dari kehidupan, penghubung antarpulau, sekaligus jalur yang mempertemukan masyarakat dari satu daratan ke daratan lainnya.
Selepas salat Zuhur di Masjid Raya Nur Ilahi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Penyengat. Pulau kecil itu menyimpan jejak panjang sejarah dan peradaban Melayu. Di sana, rombongan tidak sekadar menikmati lanskap pulau, tetapi juga menyelami kisah perjuangan masa lalu yang pernah menjadikan Penyengat sebagai salah satu simpul penting peradaban Melayu.
Hingga waktu Ashar tiba, perjalanan pengenalan medan pun berlanjut. Sekitar pukul 17.00 WIB, pengurus Dewan Dakwah Kepulauan Riau menjemput rombongan untuk bersilaturahmi ke kediaman Dr. Suryadi, Ketua Dewan Dakwah Kepri. Pertemuan tersebut menjadi ruang koordinasi sekaligus mematangkan persiapan sebelum para da’i dan da’iyah berpencar menuju titik pengabdian masing-masing.
Ketika Laut Menjadi Jalan Raya
Jumat, 21 Agustus 2026. Hari yang dinanti tiba. Sebaran dakwah resmi dimulai. Sebagian personel bergerak menuju Kepulauan Anambas dan Batam. Sementara itu, satu tim mengambil jalur berbeda: menuju Kecamatan Moro.
Pukul 13.00 WIB, mereka menaiki kapal kecil. Mesin kapal mulai berpacu. Daratan perlahan menjauh. Di hadapan mereka terbentang laut lepas dengan gugusan pulau karang dan hamparan ombak yang seolah tak berujung. Perjalanan laut diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga jam.
Namun, ada satu pengalaman yang membuat perjalanan menuju Moro terasa berbeda. Ketika kapal berhenti di kawasan Jembatan 1, para penumpang tidak menemukan dermaga untuk bersandar. Di tengah laut, beberapa warga justru turun dari kapal dan berpindah ke sampan-sampan kecil yang telah menunggu. Tidak ada jalan beton. Tidak ada kendaraan yang menanti di tepi terminal. Di sini, laut adalah jalan raya.
Sampan menjadi kendaraan penghubung. Ombak menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari. Dan bagi seorang da’i, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata tentang medan yang akan dihadapi. Sekitar pukul 15.30 WIB, kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Sri Mandah, Moro. Para ustaz dan ustazah pengurus Dewan Dakwah setempat telah menunggu. Sambutan hangat menghapus lelah perjalanan laut yang baru saja ditempuh.
Dari pelabuhan, perjalanan belum benar-benar berakhir. Dengan menggunakan bentor—becak motor—rombongan menempuh perjalanan darat sekitar 10 hingga 15 menit. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah tempat yang menjadi tujuan utama perjalanan: Yayasan Al-Hidayah, atau yang dikenal sebagai Al-Hidayah Boarding School.
Dari Perjalanan Panjang Menuju Amanah Panjang
Kedatangan di Al-Hidayah Boarding School bukanlah garis akhir. Justru di tempat inilah amanah pengabdian dimulai. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, para da’i dan da’iyah muda akan membersamai para santri, mengajarkan ilmu, membangun pembinaan keislaman, sekaligus mengambil bagian dalam menguatkan dakwah di tengah masyarakat kepulauan.
Perjalanan menuju Moro memperlihatkan satu hal sederhana: dakwah tidak selalu hadir melalui jalan yang mudah. Ada dini hari yang harus dilewati. Ada penerbangan yang harus ditempuh. Ada laut lepas yang harus diseberangi. Ada sampan yang menjadi penghubung. Ada bentor yang membawa langkah terakhir menuju tempat pengabdian. Namun, di balik perjalanan panjang itu ada satu tujuan: menghadirkan cahaya ilmu dan dakwah di wilayah yang membutuhkan.
Dan perjalanan tersebut dapat terus berlangsung berkat amanah zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan para donatur melalui Laznas Dewan Dakwah. Karena setiap dukungan bukan sekadar angka dalam laporan penghimpunan. Ia menjelma menjadi perjalanan seorang da’i, menjadi buku yang dibaca santri, menjadi majelis ilmu, dan menjadi ikhtiar untuk menjaga pendidikan serta syiar Islam tetap hidup di pelosok kepulauan.
Dari Jakarta menuju Tanjungpinang. Dari Tanjungpinang menyeberangi laut lepas. Dari pelabuhan menuju Al-Hidayah. Sebuah perjalanan panjang telah dimulai. Dan di ujung perjalanan itu, dakwah kembali menemukan rumahnya.
Humas Dewan Dakwah
Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah
Editor: Abu Dzakir
Berita Terkait
Kabar Da'i
Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores
Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...
Kabar Da'i
Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...
Kabar Da'i
18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara
Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.