Kembali ke Daftar Berita
Kabar Da'i

Tiga Hari Dua Malam Menuju Pulau Saur, Dua Da'iyah Menyeberangi Lautan

Oleh Admin Dewan Dakwah • Minggu, 06 September 2026
Tiga Hari Dua Malam Menuju Pulau Saur, Dua Da'iyah Menyeberangi Lautan

Jakarta, dewandakwah.or.id — Ada perjalanan yang cukup ditempuh dengan kendaraan. Ada pula perjalanan yang menuntut kesabaran, ketahanan fisik, dan keyakinan bahwa tujuan yang dituju memang layak diperjuangkan.

Jakarta, dewandakwah.or.id — Ada perjalanan yang cukup ditempuh dengan kendaraan. Ada pula perjalanan yang menuntut kesabaran, ketahanan fisik, dan keyakinan bahwa tujuan yang dituju memang layak diperjuangkan.

Perjalanan menuju Pulau Saur, sebuah pulau kecil di gugusan Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, adalah salah satunya.

Selama tiga hari dua malam, Ustadzah Popy Saputri, S.Sos dan Ustadzah Mala Riani Pitri, S.Sos menempuh perjalanan panjang dari Jakarta menuju pulau yang berada jauh di ujung timur Madura itu. Pesawat, kendaraan darat, kapal laut, hingga speedboat menjadi bagian dari perjalanan. Lautan lepas harus diseberangi berkali-kali.

Namun, yang mereka bawa bukan sekadar tas perjalanan. Ada amanah penugasan. Ada tugas pembinaan. Dan ada harapan agar anak-anak di sebuah pulau kecil tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan mengenal agama dengan lebih baik.


Ketika Daratan Berakhir

Jumat, 21 Agustus 2026, perjalanan dimulai. Pesawat membawa keduanya dari Jakarta menuju Surabaya. Sekitar satu setengah jam kemudian, pukul 15.00 WIB, pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda.

Belum sempat perjalanan benar-benar terasa usai, perjalanan berikutnya telah menunggu. Dari Surabaya, kendaraan melaju menuju Madura melewati Jembatan Suramadu. Lima jam perjalanan darat ditempuh menuju Sumenep, kota yang menjadi gerbang menuju gugusan kepulauan di sebelah timurnya.

Tetapi Sumenep bukan tujuan akhir. Justru dari sinilah perjalanan sesungguhnya dimulai. Sabtu, 22 Agustus 2026, keduanya tiba di Dermaga Kalianget. Di hadapan mereka terbentang laut yang harus dilalui untuk mencapai Kepulauan Kangean.

Kapal bertolak dan mulai membelah Laut Jawa. Dua belas jam. Bukan dua belas menit. Bukan perjalanan singkat yang bisa diselesaikan dengan sekali duduk. Selama 12 jam, laut menjadi jalan raya mereka. Malam datang di tengah perjalanan. Gelap dan luasnya laut seolah membuat daratan terasa semakin jauh. Namun kapal terus bergerak menuju timur.

Ahad pagi, 23 Agustus 2026, pukul 06.00 WIB, kapal akhirnya bersandar di Dermaga Kangean. Sejenak mungkin ada kesempatan untuk menarik napas. Tetapi perjalanan belum selesai. Lima Jam Lagi di Atas Laut

Dari Kangean, perjalanan kembali berlanjut menuju Pulau Sapeken. Lima jam berikutnya dihabiskan di atas kapal. Gugusan pulau kecil dan batu-batu karang menjadi pemandangan yang silih berganti. Laut yang luas menjadi satu-satunya bentang alam yang terbentang sejauh mata memandang.

Pukul 17.40 WIB, rombongan akhirnya merapat di Pelabuhan Sapeken. Di sana, perwakilan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Ihsan Saur telah menunggu.

Ada sambutan. Ada senyum. Tetapi tidak ada banyak waktu untuk beristirahat. Sebab Pulau Saur masih berada di seberang. Pukul 18.00 WIB, ketika cahaya matahari mulai meredup, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini menggunakan speedboat.

Empat puluh menit perjalanan membelah ombak. Senja perlahan berganti gelap. Perahu-perahu nelayan mulai kembali ke daratan. Sementara speedboat yang membawa dua da’iyah itu justru bergerak menuju pulau kecil yang menjadi tujuan pengabdian mereka.

Pukul 18.38 WIB. Setelah tiga hari menempuh perjalanan dari Jakarta, akhirnya kaki menapak di Pulau Saur. Lelah perjalanan seketika bertemu dengan wajah-wajah yang menunggu. Santri-santri Pondok Pesantren Al-Ihsan Saur menyambut kedatangan mereka.

Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, sambutan sederhana itu terasa begitu berarti. 

Jalan Gelap yang Menjelaskan Mengapa Mereka Harus Hadir

Perjalanan belum benar-benar berakhir. Dari titik kedatangan menuju asrama pondok, keduanya kembali berjalan menembus malam. Jalan yang dilalui masih berupa tanah dan batu. Gelap menyelimuti sebagian besar perjalanan. Rumah-rumah warga tampak minim penerangan. Sebagian mengandalkan panel tenaga surya sebagai sumber listrik.

Sesekali, kawanan sapi terlihat berada di tepian jalan. Suasana itu memberikan gambaran sederhana tentang kehidupan di Pulau Saur: jauh dari pusat keramaian, dengan berbagai keterbatasan yang masih menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Di tengah kondisi seperti itulah keberadaan seorang da’iyah menemukan maknanya. Sebab dakwah tidak selalu berlangsung di ruang yang nyaman. Tidak selalu berada di tengah fasilitas lengkap. Tidak selalu memiliki akses yang mudah. Kadang ia harus menyeberangi laut selama belasan jam.

Bukan Sekadar Mengajar

Kehadiran Ustadzah Popy dan Ustadzah Mala di Pulau Saur bukan sekadar perpindahan tempat tugas. Di balik penugasan itu terdapat kebutuhan yang nyata. Keterbatasan sumber daya manusia membuat pembinaan santri di Pondok Pesantren Al-Ihsan Saur selama ini belum dapat berjalan secara teratur. Karena itu, kehadiran da’iyah diharapkan bukan hanya mengisi ruang belajar, tetapi juga menghadirkan pendampingan dan pembinaan yang lebih berkelanjutan.

Jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke Pulau Saur justru memperlihatkan satu hal penting: semakin jauh sebuah wilayah dari pusat akses, semakin besar pula kebutuhan untuk menghadirkan perhatian. Dakwah tidak boleh berhenti di daratan utama. Ia harus terus bergerak, bahkan ketika jalan berubah menjadi laut. 

Dari Jakarta, Menyeberangi Laut, Menuju Cahaya Ilmu

Tiga hari perjalanan akhirnya selesai. Tetapi bagi dua da’iyah tersebut, perjalanan itu barangkali justru merupakan permulaan. Permulaan dari hari-hari panjang bersama para santri. Permulaan dari pembinaan yang diharapkan berjalan lebih teratur. Dan permulaan dari ikhtiar kecil untuk menjaga agar cahaya ilmu tetap menyala di sebuah pulau yang jauh dari pusat keramaian.

Pulau Saur mungkin kecil di peta. Tetapi amanah dakwah di sana tidak pernah kecil. Sebab setiap anak yang mendapatkan ilmu, setiap santri yang mendapatkan bimbingan, dan setiap nilai kebaikan yang tumbuh dari pembinaan, adalah bagian dari mata rantai panjang perjuangan dakwah. Dan di balik perjalanan tiga hari dua malam itu, ada satu pesan yang sederhana namun kuat: Selama masih ada umat yang membutuhkan bimbingan, perjalanan dakwah tidak boleh berhenti hanya karena jarak.

Di situlah amanah para da’i dan da’iyah menemukan maknanya. Dan di situlah pula titipan para donatur menjadi berarti—menjadi jembatan yang memungkinkan ilmu menyeberangi lautan, menjangkau pulau-pulau kecil, dan menghadirkan cahaya di sudut-sudut negeri yang jauh.

Humas Dewan Dakwah

Reportase: Bidang Pembinaan dan Penempatan Da'i Dewan Dakwah

Editor: Abu Dzakir

Berita Terkait

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Da'iyah Muda Pulang Mengabdi ke NTT, Membina Masyarakat di Kupang Hingga Pesisir Flores

Kupang, dewandakwah.or.id — Nama Bengkulu sempat tertulis dalam bayangan perjalanan Arbiatul Adawiyah, asal NTT. Saat surat penugasan dibacakan pada hari wisuda di STID Mohammad Natsir, alumni tersebut telah bersiap untuk menapaki medan dakwah di ujung barat Pulau Sumatera. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Panggilan pengabdian justru membawanya kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah dengan masyarakat minoritas Muslim itu, Arbiatul mendapat amanah...

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur Kabar Da'i
21 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

Menembus Kabut Asap, Menunaikan Tugas Dakwah di Kotawaringin Timur

Kalimantan Tengah, dewandakwah.or.id — Perjalanan para da’i Dewan Da’wah alumni STID Mohammad Natsir menuju medan dakwah di Kalimantan Tengah disambut pekatnya kabut asap sebelum akhirnya menjejakkan kaki di tanah tugas. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada Rabu, 19 Agustus 2026 menuju Bandara H. Asan, Sampit, Kalimantan Tengah. Mereka terdiri atas Ustadz Ahmad Sobari, S.Sos., Ustadz Riski Al Ikhlas, S.Sos., bersama istrinya, Ustadzah Rahmaniah Daka, S.Sos...

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara Kabar Da'i
17 September 2026 • Oleh Admin Dewan Dakwah

18 Jam Membelah Samudra, Langkah Pengabdian Da’iyah di Ujung Barat Nusantara

Mentawai, dewandakwah.or.id — Menempuh medan dakwah di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menuntut kesabaran ekstra sejak hari pertama keberangkatan. Itulah yang dirasakan oleh Ustadzah Sunarti Tuto Laba, S.Sos dan Ustadzah Ida Ayu Bukhori, S.Sos, da'iyah Alumni STID Mohammad Natsir. Perjalanan bukan hanya soal menembus jalur udara dan darat, melainkan juga kesiapan mengarungi Samudra Hindia selama belasan jam demi menyapa masyarakat pulau.